DKI Belum Aman Wabah Corona, Anies Buka Angka Reproduksi Covid-19

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

    Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta -Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa Ibu Kota belum aman dari wabah Corona. Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu menyebut bahwa reproduksi efektif (Rt) virus Corona masih berkisar di angka 1.

    "Reproduksi rate kita masih 1. Belum aman. Masih zama seperti bulan lalu," kata Anies, Rabu, 1 Juli 2020. Sebelumnya Anies menyebut angka reproduksi menurun dari 0,99 menjadi 0,98.

    Karena angka reproduksi virus kini berskisar 1, kata dia, maka pemerintah memutuskan memperpanjang transisi new normal selama 14 hari ke depan. Pemerintah tetap mempertahankan kelonggaran 50 persen. Angka Rt 1 menunjukan bahwa satu orang menularkan virus ini kepada satu orang lainnya.

    "Kami tidak mau melonggarkan 50 jadi 100 persen lalu terjadi lompatan kasus yang berisiko," ujarnya. "Kami tetap pertahankan 50 persen mudah-mudahan bisa dikendalikan."

    Gubernur Anies juga mengatakan selama masa transisi ini angka kasus baru terlihat sangat tinggi karena gencarnya pemerintah melakukan active case finding atau pelacakan. Kasus positif Covid-19 yang ditemukan, kata dia, tidak lagi mengandalkan dari pasien yang datang ke rumah sakit.

    Pemerintah telah melakukan pelacakan melalui puskesmas untuk mendatangi orang-orang yang probabilitasnya tinggi. "Makanya kami katakan bahwa wabah ini masih ada dan belum aman."

    Kata suami Fery Farhati itu, Pemerintah DKI tidak ingin membuat grafik kasus penularan turun dengan mengurangi jumlah warga yang diperiksa. Sebab, tujuan pemerintah adalah mengendalikan wabah, bukan membuat garis kurva menurun karena mengurangi jumlah orang yang diperiksa.

    "Yang kami lakukan adalah jangkau, periksa dan yang bergejala diisolasi," ucap Anies. "Yang tidak bekepentingan jangan pergi (keluar) dari rumah."

    Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (epidemiolog) Tri Yunis Miko Wahyono, menyarankan Pemerintah Provinsi DKI memperketat kebijakan masa transisi new normal atau normal baru jika ingin diperpanjang.

    "Sebab, angka kasus harian masih tinggi. Sebenarnya kemarin tidak aman membuka PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ke masa transisi," kata Tri saat dihubungi, Rabu, 1 Juli 2020.

    Menurut Tri, keputusan pemerintah mengambil kebijakan transisi saat wabah belum terkendali pada awal bulan lalu adalah keputusan yang tidak tepat. Sebab, kasus penularan virus belum turun secara tetap selama 14 hari. "Sekarang bisa dilihat kasus harian selama masa transisi ini makin tinggi."

    Tri menuturkan selama masa transisi ini positif rate penularan virus corona di Ibu Kota masih berkisar 5 persen. Sedangkan, klaim penurunan angka reproduksi efektif atau Rt Covid-19 mencapai 0,98 harus dicermati dengan baik. "Sebab, yang diambil adalah angka tengah atau rata-rata," ujarnya.

    Menurut Tri, reproduksi penularan virus di Jakarta, sebenarnya masih berada direntang 0,96 -1,2. Kisaran angka tersebut menunjukan masih ada beberapa wilayah di DKI, yang reproduksi virusnya di atas satu.

    "Jadi ketika mengambil kebijakan saat belum terkendali, solusinya adalah memperketat dan memberikan peraturan tambahan," ujarnya. "Kalau mau diperpanjang perketat lagi kebijakannya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.