Survey: Ada Warga DKI yang Rela Tertular Covid-19 Demi Ekonomi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) menyemprotkan cairan disinfektan di mal Blok M Square, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2020. Sterilisasi kawasan Blok M dengan melakukan penyemprotan disinfektan tersebut dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 di era new normal atau masa PSBB transisi guna memberikan rasa aman bagi masyarakat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) menyemprotkan cairan disinfektan di mal Blok M Square, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2020. Sterilisasi kawasan Blok M dengan melakukan penyemprotan disinfektan tersebut dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 di era new normal atau masa PSBB transisi guna memberikan rasa aman bagi masyarakat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Surveyor dari Social Resilience Lab Nanyang Technological University, Sulfikar Ami mengatakan, ada sekelompok warga DKI Jakarta yang rela tertular Covid-19 demi penghasilannya tidak terganggu.

    Hal tersebut terungkap dalam survey yang dilakukan oleh lembaganya bersama Lapor Covid-19 dengan tajuk Persepsi Risiko Warga DKI Jakarta pada New Normal.

    Menurut Sulfikar, dari keseluruhan data responden yang valid sebanyak 154.471, 16 persen di antaranya menganggap faktor ekonomi lebih penting daripada kesehatan. Ketika ditanya seberapa besar Anda rela tertular Covid-19 agar penghasilan tidak terganggu, kata Sulfikar, ada 15 persen responden yang menjawab rela tertular.

    “Ini menjadi satu poin penting karena ketika ada sekelompok orang yang rela tertular maka mereka akan menjadi kelompok yang akan membawa virus ini ke mana-mana,” kata Sulfikar dalam konferensi pers daring yang diunggah di akun YouTube Lapor Covid-19 dan Tempo kutip pada Senin, 6 Juli 2020.

    Sulfikar menjelaskan, responden yang rela tertular Covid-19 untuk menjaga penghasilannya ada di setiap kelompok profesi. Namun, ia mengatakan kalau responden yang rela itu paling banyak berada di kelompok pekerja harian, lalu pekerja di lembaga nonprofit, serta mereka yang tidak memiliki pekerjaan.

    Dalam pertanyaan seberapa besar penghasilan berkurang karena pendemi Covid-19, Sulfikar menyebut sebanyak 33 persen responden menjawab cukup besar, 17 persen besar, dan 26 persen sangat besar. Sisanya, 9 persen menjawab tidak ada dan 14 persen menjawab kecil.
    “Dampak ekonomi akibat pandemi sangat luar biasa dilihat dari data-data ini,” ucap dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.