217 Pedagang Pasar DKI Kena Covid-19, Terbanyak se-Indonesia

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana jual beli di Lantai Semi Basement Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Rabu 24 Juli 2019. Tempo/Silvy Riana Putri

    Suasana jual beli di Lantai Semi Basement Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Rabu 24 Juli 2019. Tempo/Silvy Riana Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan penambahan kasus Covid-19 di DKI Jakarta paling tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Ikappi mencatat 217 pedagang pasar tradisional dari 37 pasar telah terinfeksi virus Corona.

    “Kami telah berupaya membantu Pemerintah DKI menekan angka penularan virus di pasar,” kata bicara Ikappi, Reynaldi Sarijowan, melalui keterangan resminya, Rabu, 8 Juli 2020. Ikappi meminta DKI untuk terus melakukan langkah efektif dalam mencegah penularan Covid-19.

    Ikappi mengapresiasi beberapa langkah Pemda DKI seperti menugasi ASN mendisiplinkan pedagang agar mematuhi protokol kesehatan di pasar tradisional. Pendekatan ASN dinilai dapat meningkatkan kedisipilnan pedagang.

    Selain itu, ASN juga bisa memaksimalkan edukasi mengenai bahaya Covid-19 dan berlangsungnya protokol kesehatan. Meski ada beberapa kebijakan yang rasa perlu dievaluasi.

    Kebijakan itu antara lain adalah memaksa pedagang menjalani rapid test dan swab. "Ini persoalan baru dan memperkuat indikasi lemahnya komunikasi antara pengelola pasar atau DKI dengan pedagang pasar."

    Ikappi telah mendapat laporan beberapa kasus laporan tentang penjemputan paksa pedagang untuk melakukan rapid test dan swab. Langkah ini diharapkan menjadi suatu kesadaran pedagang sendiri yang bersedia untuk menjalani rapid test dan swab.

    "Jadi tanpa ada paksaan, tetapi pelaksanaannya di jam-jam yang pedagang sedang senggang serta pemberitahuannya tidak mendadak. Jika pedagang sedang ramai pembeli agak cukup sulit untuk dipaksakan rapid test dan swab," ucapnya.

    Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mendorong tanggung proses pelaksanaan protokol kesehatan ini dengan baik. Contohnya tidak mencampur sabun dengan air karena kurang efektif saat membilas tangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.