Musisi Cafe Demonstrasi Anies Baswedan di Balai Kota, Ada Apa?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Persatuan Musisi Cafe Indonesia berunjuk rasa di depan Bali Kota DKI, Jakarta Pusat, 8 Juli 2020. Mereka menuntut diperbolehkan kembali bermusik di cafe. Tempo/Imam Hamdi

    Persatuan Musisi Cafe Indonesia berunjuk rasa di depan Bali Kota DKI, Jakarta Pusat, 8 Juli 2020. Mereka menuntut diperbolehkan kembali bermusik di cafe. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta -Ratusan anggota Persatuan Musisi Cafe Indonesia berunjuk rasa di depan Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Juli 2020 memprotes Gubernur DKI Anies Baswedan

    Mereka menuntut Pemerintahan Provinsi DKI membolehkan kembali musisi bermusik di cafe.

    Juru bicara PMCI, Aray Arsyad, meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  membolehkan kembali live musik di cafe pada masa transisi new normal atau normal baru.

    "Sudah empat bukan kami nganggur karena pandemi ini," kata Arsyad saat ditemui di sela unjuk rasa.

    Ia menuturkan pemerintah telah membolehkan cafe maupun rumah makan buka kembali pada masa transisi sejak 8 Juni lalu. Namun, hingga masa transisi diperpanjang selama 14 hari hingga 16 Juli mendatang, pemerintah belum membolehkan musisi cafe untuk bermusik.

    Padahal, kata dia, keberadaan musisi cafe tidak bakal menimbulkan kerumunan masa seperti konser musik. "Paling nambah cuma tujuh orang paling banyak dari musisi cafe. Kami punya keluarga dan butuh kembali mencari uang."

    Arsyad berharap pemerintah mempertimbangkan kebijakan agar musisi cafe bisa kembali mencari nafkah. Musisi cafe, kata dia, bakal mematuhi protokol kesehatan yang menjadi standar pencegahan penularan virus corona. "Kami harap ada revisi SK Gubernur soal perpanjangan masa transisi agar membolehkan kami kembali bermusik," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penjelasan Bamsoet Terkait Aturan Kepemilikan Senjata Api 9mm

    Bamsoet meluruskan pernyataan terkait usul agar Polri memperbolehkan masyarakat memiliki senjata api 9mm untuk membela diri. Mengacu pada aturan.