New Normal, RSUP Persahabatan Pisahkan Pelayanan Pasien Covid-19

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenaga medis dengan alat dan pakaian pelindung membantu pasien positif COVID-19 melakukan peregangan tubuh di ruang ICU Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020. REUTERS

    Tenaga medis dengan alat dan pakaian pelindung membantu pasien positif COVID-19 melakukan peregangan tubuh di ruang ICU Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur akan memisahkan pelayanan pasien Covid-19 menjelang tatanan hidup baru alias new normal. Direktur RSUP Persahabatan Rita Rogayah menyatakan, rumah sakit menyiapkan sejumlah regulasi untuk tetap menerapkan protokol kesehatan guna mengantisipasi penyebaran virus corona.

    "Untuk itu rumah sakit kami harus membuat pemisahan bagaimana pelayanan untuk pasien Covid-19 dan pelayanan bukan Covid-19," kata dia saat konferensi pers online, Jumat, 10 Juli 2020.

    Untuk membedakan pelayanan tersebut, RS Persahabatan bakal mengecek suhu tubuh dan menanyakan kepada semua pengunjung soal kesehatannya. Selanjutnya, petugas memberikan label dengan warna berbeda kepada setiap pengunjung.

    Jika berlabel merah, menurut dia, pengunjung harus berobat di poliklinik yang terpisah dengan tempat lain. Sementara label hijau berarti tidak diperlukan tempat khusus.

    Rita melanjutkan, pengunjung juga harus menjaga jarak atau physical distancing baik saat rawat jalan atau rawat inap. RS Persahabatan akan membatasi jumlah orang yang ikut mengantar pasien ke rumah sakit.

    "Ini yang harus betul-betul kami buat, sehingga pasien yang datang yakin kalau dia berobat aman," ujar dia.

    RSUP Persahabatan merupakan salah satu rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Secara kumulatif, RSUP Persahabatan telah merawat 1.179 orang selama 1 Maret-7 Juli. Dari angka itu, 385 orang positif corona (32,7 persen), 768 orang negatif (65,1 persen), 26 PDP (2, 2 persen).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.