Kisah Pemilik Warung di Sekitar Kematian Editor Metro TV

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Amir Mahmud, 51 tahun, bercerita terkait Yodi Prabowo, editor video Metro TV, yang diakui tidak mengenal dan disebut tidak pernah mampir di warung depan Danau Cavalio, Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kamis, 16 Juli 2020. TEMPO/Ihsan Reliubun.

    Amir Mahmud, 51 tahun, bercerita terkait Yodi Prabowo, editor video Metro TV, yang diakui tidak mengenal dan disebut tidak pernah mampir di warung depan Danau Cavalio, Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kamis, 16 Juli 2020. TEMPO/Ihsan Reliubun.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pagi itu Amir Mahmud dan istrinya Mariyem tengah membersihkan ikan di warungnya, sekitar 500 meter dari tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau Jalan Ulujami Raya, depan gapura gang RT 007-008 RW 01, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Ikan-ikan itu disiapkan untuk arisan keluarga. Yang sudah bersih diletaknnya di meja, di depan warung bertiang kuning, yang belakangan disebut-sebut ada kaitannya dengan ditemukannya jenazah editor Metro TV, Yodi Prabowo di dekat tol itu.

    Mendadak ada anjing mondar-mandir di halaman warung kopi. Keduanya baru tahu ada anjing lalu lalang ketika diberi tahu keponakannya. "Ada anjing... ada anjing," kata Amir menirukan ucapan keponakannya, Indah, kepada Tempo di depan warungnya, Kamis, 16 Juli 2020.

    Itu anjing pelacak alias K9 yang menyeret sejumlah polisi turun hingga ke Danau Cavalio. Tangannya masih kotor berlumur sisik ikan, Amir keluar menyusul suara keponakannya. Anjing itu mondar-mandir menuju arah rel kereta dan balik mendekati warung Amir.

    Lantas K9 ini duduk mendekat di sebuah dipan kayu di bawah rimbunan pohon gersen, di sisi kiri kedai bercat kuning, beratap seng itu. "Dari sana ke mari... dari sana ke sini. Tapi duduk di sana," ujar Amir, menunjuk dipan beralas spanduk itu. Dari situlah, Amir mengakui kedai kopi miliknya disebut-sebut sebagai sumber pisau yang diduga berkaitan tengan tewasnya editor video Metro TV, Yodi Prabowo.

    ADVERTISEMENT

    Yodi, 25 tahun, ditemukan tak bernyawa di sisi kiri Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau Jalan Ulujami Raya, depan gapura gang RT 007-008 RW 01, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Jumat 10 Juli lalu. Ia diketahui menghilang dua hari sebelum ditemukan sejumlah bocah setempat, dengan kepala terpasang helm, memakai sepatu, dan tas selempang, tengkurap di dekat tembok. Diduga, ia korban pembunuhan.

    Amir berkisah, saat merapikan ikan sepat, mujair, gabus broso, dan udang, datang sejumlah polisi, sehari setelah menemukan mayat korban. Salah satunya Kepala Kepolisian Sektor Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Lelaki lulusan sekolah menengah pertama ini sempat bingung namanya disebut-sebut orang yang mengenal Yodi. Kedai kopinya dibilang tempat nongkrong almarhum.

    "Saya bingung, kenal saja enggak," kata Amir. Ia bahkan belum pernah melihat Yodi. Warung menghadap Danau Cavalio dengan air cokelat itu tak banyak didatangi pengunjung untuk minum kopi dan teh. Lokasi itu, kata dia, mulai sepi sejak pintu masuk kawasan danau melalui jembatan dipalang sejak Juni lalu.

    Walaupun begitu warung itu tetap buka. Melayani orang yang memesan kopi atau teh. Semenjak masa pandemi, warung milik ayah empat anak itu tutup sekitar pukul 7-9 malam. Dia tak melayani mereka yang memesan kopi ketika kedai itutup, kecuali mereka yang akrab dengannya. "Saya sudah capek."
     
    Ahad malam, 12 Juli lalu, polisi sempat menyodorkan foto Yodi sembari bertanya apakah dia kenal orang difoto itu. Ia mengatakan tak mengenal sosok di foto itu. Ada juga wartawan yang menyodorkan foto lelaki gondrong. Tapi ia mengaku tidak pernah melihatnya. "Melintas pun, saya belum pernah lihat."

    Senin dinihari, 13 Juli lalu polisi juga menggedor rumah Sulasmi, 40 tahun, tetangga Amir. Kedatangan polisi itu juga menanyakan masalah editor Metro TV. Sekitar satu jam polisi menanyakan jenis pisau yang dia pakai di dapur. Senada dengan Amir, Sulasmi juga mengaku tak pernah melihat Yodi. Sebelumnya, pada Sabtu lalu, 11 Juli 2020, sekitar pukul 09.00, anjing pelacak melintas melewati depan warungnya.

    "Tapi yang mereka cari memang pisau. Jenis pisaunya menurut polisi pisau satu set. Pisau yang saya gunakan murni dicek sama dia (polisi). Hari Sabtu sempat ditanya, tutup warung jam berapa. Ditanya siapa yang sering nongkrong-nongkrong di sini," kata pemilik warung ini. Kepada polisi ia jelaskan, warung ditutup usai magrib atau jam 10 malam. "Bukan karena ada peristiwa Yodi, tapi lingkungan di sini memang dijaga."

    Sariyem mengatakan seandainya Yodi pernah ke warungnya, ia pasti kenal wajahnya. "Jadi bingung ketika orang mulai bolak-balik nanya," ujar perempuan 53 tahun ini. "Saya enggak kenal, di televisi kami dibilang kenal."

    Setelah kematian Yodi, pengunjung warungnya mulai sepi. Dia menduga, orang takut datang ke warungnya.

    Danau Cavalio sunyi sejak pandemi. Biasanya orang ramai datang untuk memancing. “Tapi di masa pandemi sepi, banyak jalan ditutup," kata Warto, yang tengah mengadu pancing ke danau.

    Pemilik warung kopi tetangga Amir mengakui hal serupa ketika Tempo menunjukkan foto Yodi, editor Metro TV yang berambut gondrong mengenakan kemeja. "Wah enggak kenal Mas. Soalnya banyak (yang datang ke warung).”

    Amir yang berdagang kopi di dekat danau sejak 2015 silam mengaku tak habis pikir kematian Yodi menyeret nama dan warungnya. Berkali-kali ia mengatakan agar pelaku cepat tertangkap dan berjanji bakal datang ke Kepolisian Daerah Metro Jaya menyaksikan pelaku. Sebab, kata dia, "Warungku ditunjuk-tunjuk sama orang. Dibilang itu warung Pak Amir."

    IHSAN RELIUBUN | ENDRI KURNIAWATI

    Koreksi:
    Tertulis: di dekat tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau Jalan Ulujami Raya, depan gapura gang RT 007-008 RW 01, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

    Menjadi: sekitar 500 meter dari tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau Jalan Ulujami Raya, depan gapura gang RT 007-008 RW 01, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.