Orang Tua Murid di Depok Keluhkan Sistem Belajar Online

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belajar online. Shutterstock.com

    Ilustrasi belajar online. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Orang tua murid di Depok mulai mengeluhkan sistem belajar online di saat pandemi Covid-19. Salah satu orang tua murid bernama Ninis mengatakan kesulitan menemani anaknya dalam sistem belajar jarak jauh. Ditambah lagi, ia belum memiliki pengalaman mengajar.

    "Pendapat saya sangat melelahkan, bikin emosi jiwa karena enggak ada pengalaman jadi pengajar," sebut Ninis saat dihubungi Tempo, Rabu 22 Juli 2020. Meski ia bersyukur karena anaknya bisa belajar di rumah dan tidak terpapar oleh Covid-19.

    Ia berharap setelah pandemi ini berakhir, pemerintah bisa kembali melakukan aktivitas belajar di sekolah. Menurutnya, orang tua murid telah membayar uang sekolah dan anak-anak butuh interaksi dengan temannya di lingkungan sekolah.

    "Kalau sudah normal dan Covid-19 hilang ya jangan belajar online dong. Percuma bayar mahal untuk sekolah swasta, kalau belajar online yang repot mamanya. Menurut saya anak-anak butuh bersosialisasi, jadi waktu berteman dan bermain dengan teman-teman jadi gak ada kalau sekolah online. jadi gak setuju pake banget," ujar ibu yang anaknya sekolah di salah satu SDIT Depok.

    Ia menyebut tidak ada kesulitan untuk memberikan fasilitas belajar online ke anaknya. Namun ia prihatin dengan orang tua murid yang ekonominya pas-pasan, karena harus membeli perangkat dan menyiapkan kuota sebagai penunjang belajar online.

    Orang tua murid lain, Riska juga mengalami kesulitan yang hampir serupa. Ia tidak mengerti cara memberikan materi belajar kepada anaknya di rumah. Ia juga terkendala dengan sistem online yang memakai kuota ponsel.

    "Kesulitan saya yang pertama itu enggak ngerti cara ngajarinnya. Kedua, kesulitannya harus pakai kuota," sebut Riska saat Tempo temui di rumahnya, 22 Juli 2020.

    Ia juga harus selalu melakukan pengambilan foto anaknya yang memakai seragam lengkap dan memberikan ke gurunya. Foto tersebut, katanya, sebagai bukti untuk absen pada proses belajar online di rumah."Difoto terus dikirim ke gurunya, kalau sedang kerjain soal difoto, dikirim ke gurunya," ujar Riska.

    Menurutnya proses pembelajaran di rumah berlangsung selama 2 jam. Berbeda di sekolah yang memakan waktu dari jam 7 pagi sampai 12 siang. "Kalo di rumah kan cuma 2 jam, kalau di sekolah bisa 4 jam," tutup Riska.

    FAZRINALDO | MARTHA WARTA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.