9 Klaster Covid-19 Tempat Ibadah di Jakarta, Kasus Terbanyak Asrama Pendeta

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta -Tim Pakar Satuan tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan tercatat sembilan klaster Covid-19 rumah atau tempat ibadah di Jakarta.

    Menurut dia, dari sembilan klaster itu ditemukan 114 kasus Covid-19.

    "Kami menemukan ternyata di DKI ada sembilan klaster dengan total 114 kasus," kata dia dikutip dalam unggahan Youtube BNPB Indonesia, Jumat, 31 Juli 2020.

    Klaster tempat ibadah Jakarta terdiri dari gereja (3 klaster dan 29 kasus), masjid (3 klaster dan 11 kasus), asrama pendeta (1 klaster dan 41 kasus), pesantren (1 klaster dan 4 kasus), serta tahlilan (1 klaster dan 29 kasus).

    Data ini diperoleh dari Dinas Kesehatan DKI. Jumlah pasien Covid-19 yang tercatat hanya kasus aktif sejak 4 Juni hingga 28 Juli 2020. Dewi menyampaikan data itu dalam unggahan video pada Rabu, 29 Juli 2020.

    Sementara itu, positivity rate Covid-19 klaster rumah ibadah beragam. Dinas Kesehatan DKI mencatat positivity rate dari 10 persen kemudian meningkat menjadi 51 persen. Bahkan, pernah menembus 74 persen.

    Positivity rate merupakan hasil dari pembagian jumlah orang positif Covid-19 dengan jumlah orang yang melakukan tes swab.

    "Positivity ratenya sampai 51 persen karena mungkin asrama (pendeta) orangnya berkumpul satu waktu bersama-sama. Jadi memang ini harus kita waspadai," ujar dia.

    Selama masa PSBB transisi, klaster Covid-19 di Ibu Kota terbagi menjadi lima jenis. Selain rumah ibadah, terbentuk juga klaster di pemukiman, pasar rakyat, perkantoran, dan fasilitas kesehatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Catatan Vaksin Sputnik V Buatan Rusia untuk Hadapi Wabah Virus Corona

    Vladimir Putin umumkan penakluk wabah virus corona berupa Vaksin Sputnik V. Penangkal Covid-19 itu memicu kritik karena prosesnya dianggap sembrono.