Tambahan Kasus Covid-19 Jakarta 721 Orang, Epidemiolog: Gelombang I Belum Usai

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, gelombang pertama Covid-19 di Jakarta belum selesai. "Wabah pertama belum selesai," kata dia saat dihubungi, Ahad, 9 Agustus 2020. Sebab, jumlah pasien yang terinfeksi virus Corona tak kunjung melandai, bahkan kenaikannya kemarin menembus angka 700 kasus Covid-19.

    Pandemi ini tak akan berakhir jika tes usap atau tes swab hanya mentargetkan 10 ribu spesimen per hari. Harus ada peningkatan tes swab agar deteksi Covid-19 tersebar kepada lebih banyak orang.

    Jika pemerintah DKI mengetes 10 ribu orang per hari, misalnya, hanya akan ditemukan sekitar 600 orang yang terpapar Corona. Penghitungan ini dengan perkiraan persentase pasien positif atau positivity rate Covid-19 Jakarta adalah enam persen. "Artinya setiap hari ada 600 orang atau lebih kasus yang tidak terdeteksi karena jumlah tesnya sedikit. Itu akan menjadi sumber penularan," kata Tri.

    Pemerintah DKI akan mendapati kasus positif lebih banyak apabila melakukan tes terhadap 20 ribu spesimen per hari. Dengan asumsi persentase pasien positif yang sama, potensi tambahan kasus harian bisa mencapai 1.200 orang.

    Tri menjelaskan, tinggi rendahnya kasus Covid-19 mengacu pada persentase positivity rate. Semakin banyak jumlah tes, maka deteksi kasus juga akan bertambah.

    Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta per 8 Agustus menunjukkan, penambahan pasien positif Covid-19 di Ibu Kota sebanyak 721 orang dengan total 25.242 kasus. Sedangkan pasien sembuh juga bertambah 509 orang dan meninggal naik 12 orang.

    Penambahan pasien positif ini yang terbanyak selama pandemi Covid-19. Positivity rate-nya 7,4 persen atau di atas standar World Health Organization (WHO), yakni 5 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.