Terpopuler Metro: Pembunuhan Bos Pabrik Roti, Anies Baswedan Dituding Intoleran

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan. theindianexpress.com

    Ilustrasi pembunuhan. theindianexpress.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Pembunuhan yang dilakukan perempuan berinisial SS, 37 tahun terhadap bos pabrik roti bernama Hsu Ming Hu diduga dilatarbelakangi sakit hati. 

    Kasus pembunuhan di Cikarang, Kabupaten Bekasi itu menjadi salah satu berita terpopuler sepanjang hari Rabu kemarin hingga Kamis pagi ini, 13 Agustus 2020. Selain itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang dituding intoleran. Pengamat menilai hal itu karena beredar rumor Anies berniat maju menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2024 mendatang. Berikut tiga berita paling laris di Metro:

    -Pembunuhan Bos Pabrik Roti di Cikarang Diduga Berlatar Cinta Gelap

    Seorang perempuan berinisial SS, 37 tahun melakukan pembunuhan terhadap bosnya, pemilik pabrik roti bernama Hsu Ming Hu.

    SS, yang merupakan kekasih gelap korban, pernah dicabuli hingga hamil, namun sang bos tidak mau bertanggung jawab.

    "Hsu meminta SS menggugurkan kandungan dengan memberikan uang Rp 15 juta sebagai biaya aborsi. Korban sakit hati," ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Agustus 2020.

    Baca juga : Pegawai Toko Roti Membunuh Bosnya, Berniat Ingin Menguasai Aset

    Setelah diminta menggugurkan kandungan dan tak mau bertanggung jawab, SS semakin sakit hati setelah mendengar kabar bahwa Hsu akan menikahi seorang wanita lain, yang belakangan diketahui bahwa itu adalah pembantu di rumahnya Hsu.

    SS merasa berhak untuk menikah dengan Hsu, karena selain pernah mengandung anak hasil hubungan gelap mereka, korban yang merupakan WNA Taiwan selalu menggunakan nama SS untuk membeli properti di Indonesia.

    Sehingga, Nana mengatakan hampir sebagian besar surat-surat tanah, rumah, mobil, dan pabrik milik Hsu mengatasnamakan SS. "Pelaku kemudian juga ingin menguasai aset milik Hsu," kata Nana.

    Hingga pada Jumat, 24 Juli 2020, pukul 17.30, 4 dari 8 orang pembunuh bayaran sewaan SS dengan inisal AF, SY, S, dan R menyatroni rumah Hsu di Cluster Carribea, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Mereka berempat membagi tugas untuk menyamar, mengawasi situasi, menghabisi, dan membuang jenazah Hsu usai dibunuh.

    Usai dibunuh dengan cara ditikam sebanyak 5 kali, para tersangka membuang mayat Hsu di Sungai Citarum, Subang, Jawa Barat pada Jumat malam. Setelah berusaha menghilangkan jejak, SS dan 8 tersangka lainnya kembali dan menguras habis isi rekening Hsu.

    Hingga pada 27 Juli 2020, mayat Hsu ditemukan warga Subang, Jawa Barat. Di waktu yang bersamaan, Kedutaan Besar Taiwan juga telah mengeluarkan pengumuman bahwa ada seorang warganya yang hilang.

    "Setelah dilakukan pengecekan sidik jari, DNA, dan ciri-ciri lainnya terhadap korban, ternyata betul, identik, dia adalah Hsu Ming Hu, WNA Taiwan yang hilang," kata Nana.

    Setelah diselidiki, polisi akhirnya berhasil menangkap 4 dari 9 tersangka termasuk SS. Para pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP Subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan berencana, dan atau 365 KUHP dan atau 351 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Mereka terancam hukuman penjara seumur hidup atau 20 tahun.

    -Sempat Terhenti Efek Kebakaran di Duri Selatan, Stasiun Duri Kembali Normal

    Kebakaran di Duri, tepatnya di Kelurahan Duri Selatan, Tambora pada Selasa malam, 11 Agustus 2020 kemarin telah padam. Kini, kereta rel listrik (KRL) sudah bisa kembali melintasi Stasiun Duri.
     

    Berdasarkan pantauan Tempo pada Rabu, 12 Agustus 2020 sekitar pukul 13.00 WIB, Stasiun Duri telah beroperasi seperti semula. Banyak orang berlalu-lalang di area stasiun, dan KRL telah melayani penumpang seperti biasa.

    Sebelumnya, diberitakan bahwa kebakaran yang terjadi di Kelurahan Duri Selatan itu sempat membuat KRL tak bisa melintas. Sebab, lokasi kebakaran berdekatan dengan jalur kereta Stasiun Duri.

    Namun, sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, kobaran api telah berhasil dipadamkan, sehingga jalur kereta bisa kembali dilintasi.

    Salah seorang petugas stasiun mengatakan bahwa setidaknya sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB saat ia bertugas pagi tadi, KRL sudah bisa melintas dan stasiun beroperais seperti biasanya. “Sudah beroperasi normal,” ujarnya di Stasiun Duri.

    -Pengamat Menilai Anies Baswedan Berniat Maju Capres

    Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin, mengatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memang mempunyai celah untuk disudutkan sebagai pemimpin yang intoleran. Sebabnya, Anies dianggap dekat dengan kelompok Persaudaraan Alumni 212.

    "Bisa saja memang ada pihak atau kelompok yang memframing Anies dengan tuduhan pemimpin intoleran. Karena lawan-lawan politik Anies melihat celah bahwa Anies dekat dengan kelompok PA 212," kata Ujang melalui pesan singkat.

    Baca Juga: Disebut Intoleran, Anies Baswedan: Tunjukkan Kebijakan Mana yang Diskriminatif

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertanyakan kepada pihak yang kerap menuduhnya sebagai pemimpin yang intoleran. Selama 2,5 tahun menjabat posisi orang nomor satu di Jakarta, Anies mengaku telah berusaha merangkul semua pihak.

    "Tolong ditunjukkan selama dua tahun ini kebijakan mana yang intoleran. Tolong ditinjukkan, kebijakan mana yang diskriminatif," kata Anies dalam diskusi daring Indonesia Leaders Talk yang mengusung tema Memoar Pilkada DKI 2017 pada Senin malam, 10 Agustus 2020.

    Pada Pilkada 2017, masa dari PA 212 yang melakukan beberapa kali unjuk rasa besar-besaran untuk menyeret Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke penjara. Ahok adalah petahana yang maju dalam Pilkada 2017. Saat itu, Ahok dituduh menistakan agama Islam karena menyitir surat Al Maidah.

    Menurut Ujang, salah satu faktor kemenangan Anies pada Pilkada 2017 lalu itu adalah adanya dukungan PA 212. "Jika Anies berkata seperti itu, artinya bisa saja iya dituduhkan ke Anies."

    Ujang menuturkan dalam kontestasi politik, Anies memang sangat rentan untuk dibingkai oleh lawannya sebagai pemimpin yang intoleran karena dukungan pada Pilkada kemarin. Pembingkaian sosok Anies sebagai pemimpin intoleran bertujuan untuk menjatuhkan citranya.

    "Di politik itu kan secara umum ada dua strategi. Pertama, strategi pencitraan diri. Kedua, strategi membusuki lawan politik," ujarnya.

    Kata Ujang, saat ini Anies memang terus didera pembusukan karakter sebagai pemimpin yang intoleran. Tujuannya dari pembingkaian Anies sebagai pemimpin intoleran itu bertujuan untuk menjatuhkan popularitas dan elektabilitas mantan menteri pendidikan dan kebudayaan yang berpotensi dicalonkan menjadi calon presiden atau wakil presiden pada Pemilu 2024.

    "Anies itu bagaimana pun punya niat jadi Capres atau Cawapres, jadi perlu dibusuki sejak dini."

    JULNIS FIRMANSYAH | IMAM HAMDI | ACHMAD H ASSEGAF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 4 Tips Aman Dalam Lift saat Pandemi Covid-19

    Lift sangat membantu aktifitas sehari-hari di kantor. Namun di tengah pandemi Covid-19, penggunaan lift harus lebih diperhatikan.