Kata Penduduk Jakarta tentang PSBB Transisi Atau Kembali PSBB

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota polisi lalu lintas melakukan sosialisasi pemberlakuan kembali aturan ganjil genap di Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 2 Agustus 2020. Pemprov DKI Jakarta menerapkan kembali aturan ganjil genap bagi kendaraan roda empat saat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di 25 ruas jalan Ibu Kota. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sejumlah anggota polisi lalu lintas melakukan sosialisasi pemberlakuan kembali aturan ganjil genap di Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 2 Agustus 2020. Pemprov DKI Jakarta menerapkan kembali aturan ganjil genap bagi kendaraan roda empat saat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di 25 ruas jalan Ibu Kota. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang PSBB transisi fase pertama ke tahap keempat yang akan berlangsung hari ini Jumat, 14 Agustus hingga 27 Agustus 2020, menjadi perbicangan penduduk Jakarta.

    Penduduk Condet, Thontowi Wallace, mahasiswa sekaligus wirausahawan di bidang katering setuju untuk tetap berada di masa transisi. “Yang terpenting pemerintah bisa menertibkan protokol kesehatan,” ujar dia ketika dihubungi TEMPO, Jumat 14 Agustus 2020.

    Menurut Thontowi, pertambahan kasus itu karena kelengahan pemerintah sendiri. “Pemerintah cenderung membiarkan PSBB transisi berjalan seperti masa biasa saja.” Pada masa PSBB transisi, di Jakarta penambahan kasus Covid-19 per hari mencapai 400 kasus.

    ia khawatir dengan usaha katering yang dijalankan bersama ibunya, jika PSBB  dikembalikan seperti yang lama. “Covid-19 cukup berpengaruh negatif, klien-klien katering biasanya dari perkantoran.”

    Senada dengan Thontowi, Imam Sulistyo, 51 tahun, pedagang pakaian retail, mengungkapkan bahwa terpenting adalah protokoler kesehatan. Ia menolak jika harus dikembalikan ke PSBB sebelum transisi.

    “Lebih baik (menjalankan) protokol saja, protokoler ini yang jadi kunci. Tinggal pake masker, selesai.” Ia mengingatkan masyarakat agar mengubah perspektif tentang memakai masker, bukan hanya untuk melindungi diri, melainkan melindungi orang lain yang ada di sekitar.

    Ia bercerita bagaimana Covid-19 dan PSBB menghantam perekonomiannya. Sebagai pedagang retail pakaian, ia memproduksi barang tiga bulan sebelum lebaran dan memasukannya ke mal 2 sampai 1,5 bulan sebelum Lebaran. PSBB menghambat penjualannya. “Barang saya ada di mal dan tidak bisa dijual.”

    Di luar mal juga tidak bisa dijual. “Sudahlah, wassalam,” ujarnya.

    Soesilo, 52 Tahun, arsitek sekaligus kontraktor, juga begitu. Baginya, bagaimanapun ekonomi tetap harus berjalan dengan menggunakan protokol kesehatan. “Saya milih PSBB transisi. Perekonomian harus berjalan.”

    Menurut dia, jika tidak keluar rumah, perekonomian keluarganya akan keleleran. “Meskipun keluar rumah taruhannya nyawa.”

     

    RAFI ABIYYU | ENDRI KURNIAWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Badan Sering Lemas, Waspada 7 Penyakit ini

    Jangan anggap sepele badan sering lemas. Kondisi tersebut bisa jadi salah satu indikasi dari adanya gangguan atau penyakit tertentu dari yang rin