Enam Alasan Nawawi Pomolango Adukan Mumtaz Rais yang Telepon di Kabin Garuda

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango, saat memantau hasil penyemprotan disinfektan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. Dalam rangka mitigasi dan antisipasi penyebaran wabah virus Corona (Covid-19), KPK melaksanakan ke seluruh area gedung KPK meliputi ruang kerja, Rumah Tahanan Cabang KPK dan Rumah Tahanan Pomdan Jaya Guntur. TEMPO/Imam Sukamto

    Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango, saat memantau hasil penyemprotan disinfektan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. Dalam rangka mitigasi dan antisipasi penyebaran wabah virus Corona (Covid-19), KPK melaksanakan ke seluruh area gedung KPK meliputi ruang kerja, Rumah Tahanan Cabang KPK dan Rumah Tahanan Pomdan Jaya Guntur. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango membeberkan alasan mengapa mengingatkan Mumtaz Raiz yang menggunakan ponsel di dalam pesawat Garuda Indonesia rute Gorontalo-Makassar-Jakarta, yang sedang mengisi bensin saat transit, Rabu lalu, 12 Agustus 2020. “Saya meneruskan laporan ke pihak Kepolisian Bandara Soekarno-Hatta," kata Nawawi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2020.

    Sebelum ditegur Nawawi, putera politikus Amien Raiz itu sudah diperingatkan oleh petugas kabin Garuda Indonesia. Peringatan itu tidak diindahkan, Nawawi mengingatkan Mumtaz dan berujung menjadi percekcokan.  

    Berikut alasan Nawawi Pomolango memperingatkan Mumtaz:

    1. Nawawi duduk di kursi yang sederet dengan Mumtaz.
    “Yang bersangkutan di 6A dan saya 6K dan tidak ada orang lain lagi di barisan kursi itu," kata Nawawi.

    2. Komunikasi telepon seluler yang dilakukan Mumtaz berlangsung di saat pesawat sedang mengisi bahan bakar di Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan.

    3. Cara Mumtaz berkomunikasi dengan suara keras telah sangat mengganggu hak kenyamanan yang seharusnya diperolehnya sebagai sesama penumpang.

    4. Mengingatkan setelah peringatan awak kabin diabaikan.

    “Upaya berulang awak kabin untuk meminta yang bersangkutan berhenti menelepon tidak diindahkan yang bersangkutan," ujar Nawawi.

    5. Kalimat awal yang diucapkannya untuk ikut mengingatkan Mumtaz Rais hanya, "Mas, tolong dipatuhi aja aturannya".

    6. Tidak pernah ada acara "maaf-memaafkan" dengan Mumtaz.

    Meski Mumtaz telah ditenangkan awak kabin, ia masih terus mengucapkan kata "pahlawan kesiangan" kepada Nawawi.

    Saat itu, Nawawi Pomolango mengatakan akan meneruskan urusannya dengan Mumtaz dan menyerahkan laporan kepada kepolisian. "Yang bersangkutan sangat mengetahui kalau saya akan menyampaikan laporan itu. Ada pihak lain yang merupakan teman yang bersangkutan, saat hendak turun pesawat mengucapkan permohonan maaf tetapi yang bersangkutan sendiri telah buru-buru turun tanpa tegur sapa apapun," ujar Nawawi.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...