Dijadikan RS Darurat Covid-19, Kualitas Bangunan Wisma Atlet Dipertanyakan

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pilot Sutiyono dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI)  yang merupakan organisasi ordirga berbasis komunitas binaan TNI AU, menerbangkan pesawat Microlight Trike dengan menarik spanduk kampanye menjaga kesehatan selama masa normal baru di Rawamangun, Jakarta, Sabtu 20 Juni 2020. Sebanyak dua 'flight' dari TNI AU dan FASI secara terpisah melakukan aksi sosialisasi Normal Baru dan kampanye Terimakasih pada Tim Medis COVID-19 di kawasan sekitar Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, kawasan wisata Pantai Ancol, dan sejumlah daerah lainnya di Jakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Pilot Sutiyono dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang merupakan organisasi ordirga berbasis komunitas binaan TNI AU, menerbangkan pesawat Microlight Trike dengan menarik spanduk kampanye menjaga kesehatan selama masa normal baru di Rawamangun, Jakarta, Sabtu 20 Juni 2020. Sebanyak dua 'flight' dari TNI AU dan FASI secara terpisah melakukan aksi sosialisasi Normal Baru dan kampanye Terimakasih pada Tim Medis COVID-19 di kawasan sekitar Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, kawasan wisata Pantai Ancol, dan sejumlah daerah lainnya di Jakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suryadi Jaya Purnama meminta Wisma Atlet Kemayoran diuji kualitas struktur bangunannya. Suryadi juga mempertanyakan izin mendirikan bangunan (IMB) dan sertifikat layak fungsi (SLF) Wisma Atlet yang dijadikan rumah sakit darurat Covid-19.

    Menurut dia, Blok C-2 dan D-10 Wisma Atlet difungsikan tanpa IMB dan SLF yang masih berlaku. Masa berlaku IMB bangunan tersebut hanya sampai Agustus 2018. Sementara SLF bangunan berakhir Januari 2019. Informasi dia peroleh dari hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Semester II 2019.

    "Akibatnya, bangunan tidak dapat diyakini telah memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kelayakan fungsi bangunan," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin, 31 Agustus 2020.

    Pemerintah memanfaatkan Tower 1, 3, 6, dan 7 di Blok D-10 sebagai RS Darurat Corona yang mampu menampung 7.708 pasien. Suryadi meminta agar pemerintah segera menguji kualitas struktur bangunan dan memperbaiki bangunan.

    Baca: PSI Minta DKI Siapkan Tempat di RS Darurat Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19

    "Dan juga memberikan sanksi kepada pelaksana pekerjaan sesuai rekomendasi BPK," ucap dia.

    Fraksi PKS juga mempertanyakan IMB dan SLF Wisma Atlet di Tower 2, 4, dan 5. Dia menilai, IMB dan SLF penting diperhatikan mengingat Tower 2 bakal dipakai sebagai hunian tim dokter dan paramedis. Sementara Tower 4 dan 5 di blok D-10 untuk tambahan ruang isolasi atau karantina pasien dengan total kapasitas 886 unit.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?