Dugaan Pemerasan dan Pelecehan di Bandara Soetta, Polisi Akan Jemput Bola

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pelecehan seksual (pixabay.com)

    ilustrasi pelecehan seksual (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta- Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan timnya akan menjemput bola dalam kasus dugaan pelecehan dan pemerasan yang dialami oleh LHI oleh dokter berinisial EDY di Bandara Soekarno Hatta. Menurut Yusri, sampai sekarang kepolisian belum menerima laporan dari korban.

    “Kami sudah koordinasi kemarin dia dari Medan sudah ke Bali. Dari Bali kami mengundang lagi untuk membuatkan laporan polisi juga tidak datang. Rencana penyidik mau berangkat ke sana (Bali) jemput bola,” tutur Yusri pada Minggu, 20 September 2020. Menurut Yusri, petugas Kepolisian Resor Bandara Soetta lah yang akan berangkat ke Bali.

    Baca Juga: 5 fakta Pelecehan Seksual dan Pemerasan Penumpang Saat Rapid Test di Bandara

    Ia mengatakan kalau polisi telah meminta LHI untuk datang ke Jakarta untuk dimintai keterangan. Namun, sang korban, kata Yusri, tak menyanggupi. “Alasannya masih kerja, tidak bisa,” ucap Yusri. Adapun alasan polisi hendak menjemput korban di Bali agar perkara yang diduga ia alami tidak simpang siur. “Supaya terang benderang perkara ini,” tutur dia.

    Utas mengenai dugaan pemerasan dan pelecehan seksual yang dialami LHI dengan terduga pelaku EDY, viral di media sosial pada Kamis, 18 September 2020. Ia bercerita peristiwa itu berawal saat ia menjalani rapid test di Bandara Soetta dan hasilnya menunjukkan bahwa ia reaktif, sehingga rencana penerbangannya ke Nias terancam batal.

    "Habis itu dokternya nanyain, 'kamu jadi mau terbang gak?' Di situ aku bingung kan, hah, kok nanyanya gini. Terus aku jawab 'Lah, emangnya bisa ya, pak? Kan setahu saya ya kalo reaktif ga bisa lanjut travel'. Habis itu dokternya bilang 'ya bisa nanti saya ganti datanya'" cuit LHI di akun Twitter pribadinya @listongs. Tempo telah meminta izin mengutip pernyataan ini kepada LHI.

    Seusai menyatakan akan mengganti hasil rapid test, dokter EFY kemudian memintanya untuk menjalani tes ulang dengan membayar Rp 150 ribu. Setelah itu, hasil tes keluar dan menyatakan bahwa LHI non-reaktif. Setelah mendapat hasil tes dan akan pergi menuju gerbang keberangkatan, EFY kembali mengejar LHI. Ia meminta sejumlah uang sebagai imbal jasa telah membantu LHI mengubah hasil tesnya.

    Terburu-buru mengejar penerbangan dan tak ingin persoalan berlanjut, LHI mentransfer uang sejumlah Rp 1,4 juta ke EFY. Setelah menerima uang, EFY semakin menjadi. "Abis itu, si dokter ngedeketin aku, buka masker aku, nyoba untuk cium mulut aku. Di situ aku benar-benar shock, ga bisa ngapa-ngapain, cuma bisa diem, mau ngelawan aja ga bisa saking hancurnya diri aku di dalam," cuit LHI. Tempo sudah meminta izin untuk mengutip cuitannya yang viral itu. LHI mengaku terguncang mentalnya. Ia sudah menceritakan kejadian itu ke orang terdekatnya.

    ADAM PRIREZA | M JULNIS FIRMANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Badan Sering Lemas, Waspada 7 Penyakit ini

    Jangan anggap sepele badan sering lemas. Kondisi tersebut bisa jadi salah satu indikasi dari adanya gangguan atau penyakit tertentu dari yang rin