Jakarta Banjir, Petugas Damkar Bersiaga Evakuasi Warga

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Sudin Damkar Jakarta Barat mengoperasikan mesin pompa untuk menyedot air yang mengenang di Jalan Latu Menten, Jakarta Barat, Selasa, 25 Februari 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Petugas Sudin Damkar Jakarta Barat mengoperasikan mesin pompa untuk menyedot air yang mengenang di Jalan Latu Menten, Jakarta Barat, Selasa, 25 Februari 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Puluhan personel evakuasi dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) Jakarta Timur disiagakan untuk membantu warga terdampak banjir akibat hujan maupun luapan sungai.

    "Saat ini setiap pos ada empat sampai lima personel piket yang 'stand by' menerima laporan warga," kata Kasi Ops Sudin PKP Jakarta Timur Gatot Sulaeman di Jakarta, Selasa, 22 September 2020.

    Baca Juga: BMKG Prediksi Cuaca Jakarta Hujan di Sebagian Wilayah Siang Hingga Malam

    Gatot mengatakan seluruh personel evakuasi bersiaga di sepuluh pos yang tersebar di setiap kecamatan setempat.

    ADVERTISEMENT

    Menurut Gatot, sejumlah kawasan di Jakarta Timur mulai terendam banjir akibat luapan Kali Ciliwung beberapa jam setelah Bendung Katulampa, Bogor, Jawa Barat, berstatus Siaga 1 pada Senin, 21 September 2020 pukul 18.00 WIB."Bila dibutuhkan anggota sudah siap melakukan evakuasi," kata Gatot.

    Terdapat dua wilayah kecamatan di Jakarta Timur yang saat ini dilintasi oleh Kali Ciliwung, yakni Kecamatan Jatinegara dan Kramat Jati.

    Personel di setiap pos pemadam di Jakarta Timur diminta waspada melakukan evakuasi saat banjir terjadi."Warga yang butuh bantuan evakuasi bisa melapor ke nomor 112 atau WhatsApp Damkar Jakarta Timur di nomor 0822 9797 0113. Bisa juga melapor ke pos atau sektor terdekat," ujarnya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?