Polisi: Klinik Aborsi Jakarta Pusat Batasi Gugurkan Usia Janin Hingga 14 pekan

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka melakukan adegan rekonstruksi dari praktek aborsi ilegal di klinik kawasan Raden Saleh, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2020. Dalam pengungkapan praktek klinik aborsi tersebut, polisi menangkap 17 tersangka, enam di antaranya merupakan tenaga medis. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Tersangka melakukan adegan rekonstruksi dari praktek aborsi ilegal di klinik kawasan Raden Saleh, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2020. Dalam pengungkapan praktek klinik aborsi tersebut, polisi menangkap 17 tersangka, enam di antaranya merupakan tenaga medis. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, klinik aborsi ilegal di Jalan Percetakan Negara III, Jakarta Pusat membatasi usia janin hingga 14 pekan. “Janinnya masih berbentuk gumpalan darah, tidak seperti klinik-klinik lainnya,” kata Yusri dalam konferensi pers pada Rabu, 23 September 2020.

    Polisi meringkus 10 tersangka di klinik aborsi itu pada 9 September 2020.

    Hal ini memudahkan klinik untuk menghilangkan bukti janin yang sudah diaborsi, yaitu dibuang ke toilet. Tidak ada proses-proses pembuangan seperti pelarutan dengan cairan asam maupun pembakaran janin yang tidak bisa terlarut.

    Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan penyidik membongkar septic tank di klonik untuk memeriksa apakah benar janin hasil aborsi dibuang di sana. “Penyidik menyedot [toilet] dan mendapatkan darah, dicocokkan dan hasilnya identik dengan tersangka RS yang baru saja melakukan aborsi saat penangkapan.”

    Klinik itu menggugurkan 32.760 janin sejak berpraktek pada 2017. Pasien yang datang per hari menurutnya rata-rata sekitar 5 pasien, dilayani klinik yang buka setiap hari kecuali Ahad. Tarif antara Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta, tergantung besarnya kandungan. Klinik itu sebelumnya juga pernah buka pada 2002 hingga 2004.

    Polisi mencokok 10 tersangka, yaitu LA, 52 tahun, pemilik klinik; DK (30) dokter penindakan aborsi; NA (30) bagian registrasi pasien dan kasir; MM (38) melakukan USG; YA (51) membantu dokter melakukan aborsi; RA (52) penjaga pintu klinik; LL (50) membantu dokter di ruang tindakan aborsi; ED (28) cleaning service dan jemput pasien; SM (62) melayani pasien; dan terakhir RS (25) sebagai pasien aborsi di klinik itu.

    Para tersangka dijerat pasal berlapis, yaitu, Pasal 346 dan atau Pasal 348 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan atau Pasal 194 juncto Pasal 75 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

    WINTANG WARASTRI | ENDRI K


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Badan Sering Lemas, Waspada 7 Penyakit ini

    Jangan anggap sepele badan sering lemas. Kondisi tersebut bisa jadi salah satu indikasi dari adanya gangguan atau penyakit tertentu dari yang rin