Kasus Korupsi Penjaminan L/C Asei, JPU Diduga Merekayasa Alat Bukti

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • INFO METRO-- Proses persidangan dengan terdakwa Kepala Kantor Cabang Utama (KCU) Jakarta, Musa Harun Taufik (MHT) dan terdakwa Kabag underwriting Kantor cabang utama Jakarta PT Asuransi Ekspor Indonesia/Asei (Persero), Human Mintaraga (HM) memasuki agenda sidang pembacaan nota pembelaan atau pledoi.
     
    Pembelaan dibacakan secara virtual oleh terdakwa pada Jumat, 25 September 2020 dihadapan para hakim yang berada di kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam pembelaannya, terdakwa Musa dan Human mengaku semua yang didakwakan oleh Jaksa penuntut Umum (JPU) tidak benar dan tidak memiliki bukti kuat.
     
    Dakwaan-dakwaan tersebut kata Human yang hanya menjabat di posisi kantor cabang ini merupakan rekayasa untuk mengkriminalisasi dirinya. “Saya dijadikan kambing hitam oleh oknum-oknum dari kantor pusat PT Asei, beserta oknum-oknum lainnya yang terkait,” kata Human.
     
    Selain itu, Human juga mengatakan, adanya rekayasa alat bukti oleh JPU. Dalam Surat Tuntutan dirinya, bahwa saksi Sdr. Wahyu Marsudi juga dihadirkan di dalam persidangan. “Namun yang sesungguhnya terjadi saksi Sdr. Wahyu Marsudi tidak pernah dihadirkan di persidangan,” kata Human mengeluhkan.
     
    Setelah dikonfirmasi, Sdr. Wahyu yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bagian CRM, Kantor Cabang PT Asei di Jakarta mengaku, sejumlah karyawan bahkan menurutnya hingga puluhan, karyawan dari PT Asei banyak yang dilibatkan sebagai saksi dalam kasus tersebut. Namun dirinya tidak pernah diundang dan diajukan sebagai saksi dalam persidangan kasus itu.
     
    Untuk itu, atas sejumlah pembelaan dari terdakwa Human Mintaraga di hadapan para Hakim ini, ia memohon untuk membebaskan segala macam tuntutan kepada dirinya. “Walaupun nantinya hakim memiliki pandangan lain, saya harap dapat memutuskan dengan seadil-adilnya,” ujarnya.
     
    Sedangkan Musa dalam pembelaannya, mengatakan bahwa JPU tidak cermat dan tidak objektif dalam melakukan dakwaan karena menggunakan banyak saksi yang memberikan keterangan palsu di dalam BAP maupun di persidangan, antara lain adalah saksi Indra Noor, Anna Lukman, dan Joni Junarto.
     
    Ditambahkan Musa, ada beberapa keterangan saksi di dalam BAP yang memberikan kesaksian hanya sebatas copy paste dalam BAP salah seorang saksi kepada saksi-saksi yang lain yaitu saksi Indra Noor, Anna Lukman, Zulkarnain, Sandaru Drajat.
     
    “Keterangan Palsu dan copy paste di dalam BAP saksi-saksi tersebut sangat tendensius dan mengarah kepada persekongkolan atau konspirasi dengan melokalisir kesalahan di kantor cabang,” kata Musa.
     
    Terdakwa Musa Harun Taufik memohon kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan vonis bebas dari segala macam tuntutan kepada dirinya karena sesuai fakta persidangan tidak terbukti bersalah di mana dalam kasus ini ia telah didzolimi, difitnah dan dipermalukan oleh sejumlah pihak.
     
    Sebagaimana diketahui, kasus ini bermula pada 2012 di mana PT ASEI menyetujui penjaminan L/C impor bagi PT MPP selaku agen dari Celler Resources Singapura untuk melaksanakan pekerjaan jasa perbaikan mesin Pesawat Sukhoi antara TNI AU dengan Celler Resources Singapura.
     
    Namun, dalam surat jaminan L/C usance ini, terdapat PT Andalan Artha Advisindo (AAA) Capital, Pte. Ltd yang menjadi beneficiary party sehingga yang membelanjakan barang dan berurusan dengan supplier bukan dari pihak PT MPP.
     
    Sebelum penjaminan L/C impor ini disetujui, ada 27 butir syarat dan ketentuan yang dibuat oleh PT ASEI kantor pusat dan harus dipenuhi untuk penerbitan penjaminan L/C impor dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) sebagai issuing bank. Kedua terdakwa tidak mempunyai limit kewenangan karena kantor cabang hanya sebagai booking office.
    (*)
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Badan Sering Lemas, Waspada 7 Penyakit ini

    Jangan anggap sepele badan sering lemas. Kondisi tersebut bisa jadi salah satu indikasi dari adanya gangguan atau penyakit tertentu dari yang rin