Tempat Hiburan Buka di PSBB Ketat, Aspija: Salah, tapi Desakan Ekonomi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aparat Satpol PP DKI Jakarta menyegel peralatan musik serta gedung di tempat hiburan malam Top 10 di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat, 2 Oktober 2020. ANTARA/HO-Satpol PP DKI

    Aparat Satpol PP DKI Jakarta menyegel peralatan musik serta gedung di tempat hiburan malam Top 10 di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat, 2 Oktober 2020. ANTARA/HO-Satpol PP DKI

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Aspija) Hana Suryani menyayangkan adanya tempat hiburan di DKI Jakarta yang nekat beroperasi di masa PSBB ketat hingga berujung penyegelan. Namun, kata dia, tindakan nekat itu menunjukkan bahwa para pengusaha sudah sangat terdesak dan tidak mendapat solusi dari pemerintah.

    “Intinya mereka salah. Saya menyayangkan. Tetapi ini sudah bulan ke tujuh tempat tutup dan tidak ada solusi. Jadi artinya ya itulah yang memicu mereka akhirnya nekat untuk buka. Desakan dari ekonomi,” ujar Hana ketika dihubungi Tempo pada Jumat, 2 September 2020.

    Pada Jumat dini hari, 2 September 2020 Satpol PP menyegel tempat hiburan malam Top 10 di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat karena kedapatan beroperasi dan melayani tamu di tengah masa PSBB. Sebelumnya, pada bulan Juli lalu Satpol PP juga menyegel diskotek Top One di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat karena melanggar PSBB.

    Selain karena tidak patuh, kata Hana, pelanggaran PSBB yang dilakukan tempat-tempat hiburan itu ada sebabnya. Ia menilai bahwa para pengusaha tempat hiburan saat ini sudah sangat terdesak secara ekonomi sehingga ada yang terpaksa nekat beroperasi menerjang aturan yang ada.
    Padahal, kata Hana, para pengusaha selama ini berharap pemerintah memberi solusi atau setidaknya keringanan agar usaha mereka tidak semakin terpuruk.

    “Karena memang sampai saat ini juga dari pemerintah, dari Pemprov tidak ada solusi. Sementara kebutuhan pengusaha kan semua harus bayar sendiri. Siapa yang mau bantu?” kata Hana.

    Menurut Hana, para pengusaha tidak pernah berniat mengabaikan isu kesehatan, tetapi hanya meminta agar nasib usaha mereka diperhatikan oleh pemerintah. Ia pun mengharapkan bisa berkomunikasi dengan tim pemerintah yang khusus menangani ekonomi untuk bersama-sama mencari solusi yang berimbang baik untuk perekonomian maupun kesehatan.

    “Jadi harapan saya, segeralah buat solusi, dan kepada tim perekonomian, bekerjalah. Karena mereka masih bekerja. Sampai hari ini mereka masih dibiayai, digaji oleh rakyat,” ujar Hana.

    ACHMAD HAMUDI ASSEGAF


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ivermectin: Obat Cacing yang Digadang-gadang Ampuh dalam Terapi Pasien Covid-19

    Menteri BUMN Erick Thohir menilai Ivermectin dapat menjadi obat terapi pasien Covid-19. Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebutkan belum ada penelitian.