Wawancara Diperkarakan, Ini Alasan Najwa Shihab Hadirkan Kursi Kosong Terawan

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Najwa Shihab saat menggelar wawancara jarak jauh dengan sumber di Live Streaming - Indonesia Bertemu di Narasi TV, Ahad, 16 Agustus 2020. Foto: Youtube Najwa Shihab.

    Najwa Shihab saat menggelar wawancara jarak jauh dengan sumber di Live Streaming - Indonesia Bertemu di Narasi TV, Ahad, 16 Agustus 2020. Foto: Youtube Najwa Shihab.

    TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis Najwa Shihab dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Relawan Jokowi Bersatu karena mewawancarai kursi kosong Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu Silvia Dewi Soembarto melaporkan Najwa atas dugaan cyberbullying atau perundungan siber.

    Lewat media sosialnya, Najwa Shihab sempat mengungkapkan alasan dirinya melaksanakan metode jurnalisme tak biasa tersebut.

    “Di Indonesia, treatment menghadirkan bangku kosong ini mungkin baru sehingga terasa mengejutkan. Namun, sejujurnya ini bukan ide yang baru-baru amat,"  tulis Najwa di unggahan media sosialnya pada 29 September 2020. Tempo sudah diizinkan untuk mengutip tulisan tersebut.

    Menurut Najwa, di negara dengan tradisi demokrasi dan debat yang lebih panjang dan kuat, misalnya Inggris dan Amerika, menghadirkan bangku kosong yang mestinya diisi pejabat publik sudah biasa.

    Wawancara kursi kosong, kata Najwa, berbeda dengan format wawancara imajiner. Najwa menulis ia tidak sedang melakukan wawancara, melainkan hanya mengajukan pertanyaan.

    “Pertanyaan kan tidak harus dilakukan secara tatap muka. Bisa dilakukan secara jarak jauh dengan perantara macam-macam medium,” katanya.

    Mengenai tuduhan perundungan, Najwa menyatakan dirinya juga sudah mempertimbangkan risiko ini sebelum mengudarakan tayangan tersebut.

    “Saya berkeyakinan elite pejabat, apalagi eksekutif tertinggi setelah presiden, bukanlah pihak yang less power — aspek penting yang menjadi prasyarat sebuah tindakan bisa disebut persekusi atau bullying,” ujarnya.

    Baca juga: Buntut Wawancara Kursi Kosong Terawan, Najwa Shihab Dilaporkan ke Polisi

    Tayangan dengan tagar #MataNajwaMenantiTerawan tersebut dibuat untuk mengundang Terawan agar dapat menjelaskan dan menjawab berbagai pertanyaan publik tentang penanganan pandemi.

    “Sebagai bagian dari komunitas pers lebih luas dan juga seorang warga negara, saya sudah cukup senang jika Pak Menteri menjawab kegelisahan publik walau itu tidak dilakukan di Mata Najwa,” tambahnya.

    Pada pelaporan di Polda Metro Jaya, Selasa siang, Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu Silvia Dewi Soembarto mengungkap alasan melaporkan Najwa Shihab. Dia menyebut tayangan Mata Najwa telah memparodikan sosok Terawan. “Dan perbuatan tidak menyenangkan sih, karena Menteri Terawan adalah pejabat negara, yang membuat saya sebagai Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu marah adalah menteri ini representasi dari Jokowi, dan presiden Jokowi adalah kami relawannya,” kata Silvia. 

    WINTANG WARASTRI | TD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.