Pengungsi Banjir di Ciganjur Masih Sulit Terapkan Jaga Jarak

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membersihkan rumahnya pasca tanah longsor yang mengakibatkan banjir di Jalan Damai, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad, 11 Oktober 2020. Banjir tersebut melanda sekitar 300 rumah warga. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Warga membersihkan rumahnya pasca tanah longsor yang mengakibatkan banjir di Jalan Damai, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad, 11 Oktober 2020. Banjir tersebut melanda sekitar 300 rumah warga. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengungsi banjir di Ciganjur masih sulit menerapkan jaga jarak saat berada di pengungsian.

    Kasie Kesra Kelurahan Ciganjur dan Koordinator Posko Bersama Logistik Eka Susilawati, mengatakan pemerintah sebenarnya telah menyediakan 7 lokasi pengungsian agar para pengungsi yang awalnya berjumlah 860 jiwa dapat menjaga jarak fisik.

    “Kenapa 7 tempat? Salah satunya untuk physical distancing. Tapi itu tidak mungkin benar-benar terjadi di pengungsian. Agak susah,” ujar Eka.

    Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengeluarkan Instruksi Gubernur terkait lokasi pengungsian banjir di masa pandemi Covid-19.

    Dalam instruksinya, Anies meminta aparat Kecamatan dan Kelurahan menyiapkan lokasi penampungan pengungsi dua kali lipat dari sebelumnya.

    "Untuk mengantisipasi pada masa pandemi Covid-19, camat dan lurah diminta menyiapkan lokasi pengungsian dua kali lipat dari sebelumnya," kata Juru bicara BPBD DKI Jakarta M. Insyaf, Selasa 22 September 2020.

    Adapun pengungsi banjir di Ciganjur ditempatkan di pendopo dan enam rumah warga sekitar. Meski sulit jaga jarak, Eka memastikan para pengungsi tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker.

    Kini sebagian besar korban banjir Ciganjur telah kembali ke rumah masing-masing.

    Camat Jagakarsa Alamsyah mengatakan bahwa jumlah pengungsi pada sore tadi tersisa 53 orang.

    “Cuma 53, yang lain sudah pada balik. Listrik semalam sudah hidup,” ujar Alamsyah kepada Tempo di lokasi longsor Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober 2020.

    Banjir di Ciganjur terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2020 lalu akibat longsoran dinding turap perumahan Melati Residence yang menutup saluran penghubung Kali Setu, sehingga air meluap membanjiri ratusan rumah warga sekitar. Kejadian ini juga menewaskan seorang warga karena tertimpa reruntuhan bangunan.

    Dari pantauan Tempo, sebagian besar warga yang kembali ke rumahnya masing-masing saat ini tengah membersihkan rumah beserta perabotnya yang sempat terendam. Selain itu, mereka juga bekerja bakti membenahi lingkungan kampung.

    Salah seorang warga Ciganjur yang terdampak banjir, Kosim, 54 tahun, mengatakan bahwa ada juga sebagian warga yang beralih mengungsi ke rumah keluarga dan kerabat. Kosim mengatakan, ia telah meninggalkan pengungsian sejak pagi hari tadi.

    Kosim mengatakan nyaris semua barang dan perabot rumahnya tak terselamatkan dari rendaman banjir. “Kalau kulkas, mesin cuci, tempat tidur itu nggak ada yang selamat,” ujar Kosim.

    ACHMAD HAMUDI ASSEGAF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.