Demo Tolak UU Cipta Kerja, Polrestro Depok Terjunkan 661 Personel

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota Polisi Lalu Lintas membagikan masker dalam sosialisasi penggunaan masker di Jalan Margonda Raya, Depok, Senin, 14 September 2020. Satlantas Polres Metro Depok menghimbau masyarakat agar peduli dalam menjaga kesehatan khususnya mencegah penyebaran Covid-19 dengan tetap menggunakan masker. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah anggota Polisi Lalu Lintas membagikan masker dalam sosialisasi penggunaan masker di Jalan Margonda Raya, Depok, Senin, 14 September 2020. Satlantas Polres Metro Depok menghimbau masyarakat agar peduli dalam menjaga kesehatan khususnya mencegah penyebaran Covid-19 dengan tetap menggunakan masker. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Depok – Gelombang demonstrasi tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja masih terus berlanjut, Polres Metro Depok terjunkan 661 personel melakukan penyekatan di tiap-tiap perbatasan.

    Kasubag Humas Polres Metro Depok, Ajun Komisaris Elly Padiansari mengatakan, ada empat titik fokus penyekatan oleh aparat.“Di simpangan Depok, exit tol cijago, Fly Over Universitas Indonesia dan Bojonggede,” kata Elly dikonfirmasi Tempo, Jumat 16 Oktober 2020.

    Baca Juga: Massa BEM SI Tiba di Kawasan Patung Kuda, Polisi Tutup Akses ke Istana

    Elly mengatakan, dari keempat titik itu ada dua titik yang dilakukan penebalan anggota yakni di Fly Over UI dan exit tol Cijago.“Ada dua titik yang menjadi fokus penjagaan yakni di Bogor 8 (exit Tol Cijago), dan medan 13 (Fly Over UI),” kata Elly.

    Selain penyekatan, petugas kepolisian juga melakukan patroli keliling untuk menghalau kerumunan massa.

    Kasat Lantas Polres Metro Depok, Komisaris Andi Indra Waspada mengatakan, ada sebanyak 87 personel satlantas yang diterjunkan penyekatan massa termasuk patroli.“Sifatnya hunting dia bergerak jadi tidak nunggu di situ saja,” kata Andi.

    Andi menegaskan penyekatan massa dilakukan bukan untuk melarang melakukan demo, melainkan untuk menghalau agar tidak terjadi kerumunan mengingat saat ini masih pandemi Covid-19.

    “Kita bukan melarang loh ya, kita tidak boleh melarang mereka (pendemo), tapi tujuannya untuk meminimalisir penyebaran virus corona,” kata Andi.

    Diketahui, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) akan kembali berunjuk rasa ke Istana Merdeka, Jakarta Pusat pada Jumat, 16 Oktober 2020. Tuntutan massa tetap sama seperti pada aksi Kamis, 8 Oktober lalu, yakni mencabut Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR RI.

    "Serta mendesak Presiden keluarkan Perpu," ujar Koordinator Media BEM SI, Andi Khiyarullah kepada Tempo, Kamis, 15 Oktober 2020.

    Pada demo mahasiswa BEM SI ini diperkirakan massa yang akan mendatangi Istana akan jauh lebih banyak dibandingkan aksi sebelumnya. "Estimasinya 6 ribu orang lebih, lebih banyak dari yang sebelumnya," kata dia.

    ADE RIDWAN YANDWIPUTRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Fakta Begal Sepeda

    Begal Sepeda yang mulai berkeliaran di Jakarta mulai meresahkan warga Ibu Kota.