BEM SI Tinggalkan Lokasi Demo di Patung Arjuna Wijaya, Kerusuhan Pecah

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa melakukan pembakaran ban di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat di depan gedung Bank Indonesia, Selasa petang, 20 Oktober 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    Massa melakukan pembakaran ban di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat di depan gedung Bank Indonesia, Selasa petang, 20 Oktober 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia atau BEM SI meninggalkan lokasi demo Omnibus Law UU Cipta Kerja di area Patung Arjuna Wijaya, sebelum kerusuhan terjadi. Para mahasiswa meninggalkan lokasi demo pada Selasa, 20 Oktober 2020 sekitar pukul 16.30.

    Para mahasiswa BEM SI membubarkan diri dan berjanji akan menggelar aksi lanjutan. "Tanggal 28 kita janji kita akan kembali lagi turun ke jalan untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo," ujar Koordinator Pusat Aliansi BEM SI Remy Hastian Putra Muhammad Puhi dari atas mobil komando.

    Selain BEM SI, massa dari Gerakan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) juga telah meninggalkan lokasi. Namun, area Patung Arjuna Wijaya masih tetap dipadati massa. Segelintir di antaranya merupakan massa Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam atau PB HMI yang berkisar puluhan orang.

    Massa lain yang masih melakukan unjuk rasa adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indrasprasta PGRI. Sedangkan sisanya massa tidak memiliki atau membawa identitas organisasi seperti bendera.

    Baca juga: Demonstrasi di Patung Arjuna Wijaya Mulai Rusuh, Massa Lempar Petasan

    Kerusuhan mulai berlangsung dalam demo penolakan Undang-Undang Cipta Kerja di area Patung Arjuna Wijaya, Jalan Medan Merdeka Barat, pukul 17.07. Massa yang bukan lagi kalangan mahasiswa itu melempari polisi dengan petasan. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.