Operasi Zebra 2020, Polda Metro Jaya Targetkan Tiga Pelanggar Ini

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas Polres Metro memakaikan helm ke pengendara yang tidak memakai helm pada Operasi Zebra Jaya 2017 menggunakan baju pahlawan di Jl.Ahmad Yani, Tangerang, 10 November 2017. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Sejumlah petugas Polres Metro memakaikan helm ke pengendara yang tidak memakai helm pada Operasi Zebra Jaya 2017 menggunakan baju pahlawan di Jl.Ahmad Yani, Tangerang, 10 November 2017. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akan menggelar Operasi Zebra 2020 mulai tanggal 26 Oktober hingga 8 November 2020. Operasi ini ditujukan untuk menjaring para pelanggar lalu lintas. 

    "Rencananya Operasi Zebra itu akan digelar selama dua pekan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sambodo Purnomo Yogo, Kamis, 22 Oktober 2020. 

    Sambodo mengatakan, Operasi Zebra 2020 akan memfokuskan tindakan preemtif dan preventif kepada para pengendara. Apa lagi di massa pandemi Covid-19, angka pelanggaran lalu lintas sempat naik. 

    “Untuk operasi kali ini kita lebih banyak tentang sosialisasi dan pendidikan masyarakat lalu lintas, daripada penegakan hukum,” ujar Sambodo.

    Walau akan berfokus pada pencegahan, polisi tetap akan menindak para pelanggar yang membahayakan pengendara lain. Sambodo mengatakan ada tiga jenis pelanggaran lalu lintas yang disasar pihaknya dalam Operasi Zebra 2020. 

    “Seperti melawan arus lalu lintas, pelanggaran stop line, dan helm,” kata Sambodo.

    Baca juga: Operasi Zebra Hari Terakhir, Pemotor Putar Arah Dikejar Polisi

    Sanksi bagi pelanggar yang terjaring Operasi Zebra tersebut mengacu pada Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pelanggar lalu lintas bisa terancam pidana kurungan atau denda, tergantung dari jenis pelanggarannya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.