Wagub DKI Ungkap Rencana Bangun JPO Baru di Kawasan Sudirman

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Polda Metro Jaya menampilkan warna merah putih di Jakarta, Kamis, 9 April 2020. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menampilkan lampu merah putih sebagai simbol penghargaan dan apresiasi kepada tenaga medis yang terus berjuang menyelamatkan pasien COVID-19. ANTARA/Galih Pradipta

    Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Polda Metro Jaya menampilkan warna merah putih di Jakarta, Kamis, 9 April 2020. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menampilkan lampu merah putih sebagai simbol penghargaan dan apresiasi kepada tenaga medis yang terus berjuang menyelamatkan pasien COVID-19. ANTARA/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur atau Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan, pihaknya berencana membangun jembatan penyeberangan orang (JPO) baru di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

    "Dalam waktu dekat ini kami akan membangun lagi satu JPO di Sudirman yang bagus," kata dia kepada wartawan di Balai Kota, Jumat, 23 Oktober 2020.

    Riza tak merinci rencana pembangunan tersebut. Menurut dia, Gubernur DKI Anies Baswedan telah memberi arahan agar JPO bisa dimanfaatkan tak hanya oleh pejalan kaki, tapi juga pesepeda.

    "Nanti deh diumumkan, nanti enggak surprise lagi," ucap politikus Partai Gerindra ini.

    Pemerintah DKI, dia melanjutkan, telah sedari lama menggagas pendirian JPO yang menarik dan indah di Ibu Kota. Beberapa jembatan berdesain unik di Jakarta antara lain JPO Gelora Bung Karno, Bundaran Senayan, dan Polda Metro Jaya.

    Anies meresmikan tiga JPO yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman itu pada 28 Februari 2019. Ketiga JPO ini direvitalisasi menggunakan dana koefisien lantai bangunan (KLB) dari PT Permadani Khatulistiwa Nusantara senilai Rp 53 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.