Demo Minta Anies Baswedan Mundur, Warga DKI: Saya yang Penting Stadion Dibangun

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan massa yang menamakan diri Gerakan Jaga Indonesia berunjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, 28 Oktober 2020. Mereka menuntut Gubernur DKI Anies Baswedan turun dari jabatannya karena kebijakannya kerap bersebrangan dengan pemerintah pusat. Tempo/Imam Hamdi

    Puluhan massa yang menamakan diri Gerakan Jaga Indonesia berunjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, 28 Oktober 2020. Mereka menuntut Gubernur DKI Anies Baswedan turun dari jabatannya karena kebijakannya kerap bersebrangan dengan pemerintah pusat. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah warga DKI tak mempermasalahkan ada puluhan orang demo menuntut Gubernur DKI Anies Baswedan mundur dari jabatannya.

    Demo sekelompok orang yang mengatasnamakan Gerakan Jaga Indonesia itu berunjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2020. Mereka menyebut Anies tidak mensejahterakan rakyat. 

    Menanggapi demo itu, warga Jakarta Selatan Andri Firmansyah, 30 tahun, mengatakan unjuk rasa boleh saja dilakukan asal tujuannya jelas. "Silahkan demo kalau memang ada yang diperjuangkan," kata Andri, Kamis, 29 Oktober 2020.

    Menurut warga Kalibata itu, sejauh ini kinerja Anies cukup baik. Dalam menanggulangi wabah Covid-19 misalnya, Andri menilai Pemerintah DKI lebih sigap dari pemerintah pusat.

    Andri menilai kebijakan pemerintah pusat cukup bias dalam menanggulangi wabah sehingga kasus Covod-19 di berbagai daerah masih tinggi. "Dan bisnis tetap drop."

    Soal penanganan banjir Jakarta, Andri mengatakan belum ada Gubernur DKI yang bisa menanggulangi banjir di Ibu Kota. "Kalau soal banjir Gubernur siapa pun di Jakarta pasti ngalamin."


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.