Pembunuhan di Depok, Psikolog: Akumulasi Permasalahan Personal

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah kontrakan lokasi penemuan tulang belulang di dalam kamar masih di garis polisi, di Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Kamis 19 November 2020. TEMPO/ADE RIDWAN

    Rumah kontrakan lokasi penemuan tulang belulang di dalam kamar masih di garis polisi, di Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Kamis 19 November 2020. TEMPO/ADE RIDWAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Peristiwa pembunuhan yang terjadi di Jalan Kopral Daman, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, beberapa hari lalu cukup menyita perhatian masyarakat.

    Selain tergolong sadis, karena mayatnya dipendam di dalam lantai kamar kontrakan, pelaku pembunuhan adalah adik kandung korban.

    Pelaku pun mengaku bukan cuma sekali melakukan itu, sebelum peristiwa itu terungkap, pelaku yang diketahui bernama Juana alias J, sudah melakukan pembunuhan terhadap temannya pada bulan Agustus 2020, dan mayatnya dikubur tidak jauh dari rumahnya di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta mengatakan, kejadian tersebut membuktikan bahwa peristiwa pembunuhan terjadi paling banyak oleh orang terdekat.

    “Hampir 80-90 persen pembunuhan di Indonesia dilakukan oleh orang terdekat atau yang dikenal,” kata Aully dikonfirmasi Tempo, Sabtu 21 November 2020.

    Aully mengatakan, penyebabnya pun karena permasalahan personal terkait dengan hubungan antarpribadi dari pelaku dan korban.

    “Untuk bisa membunuh seseorang perlu dorongan dan membutuhkan energi yang besar, permasalahan personal yang sudah terakumulasi sebelumnya, pemicu dorongan agresivitasnya,” kata Aully.

    Dalam kasus Juana, Aully mengatakan, diduga pelaku kerap mendapatkan tekanan terus menerus ditambah ada masalah yang tidak ditemukan jalan keluarnya, sehingga melakukan pembunuhan.

    “Pelaku punya tingkat dorongan agresivitas yang tinggi, salah satunya bisa disebabkan karena ia merasa adanya tekanan terus menerus atau adanya masalah yang tidak ditemukan jalan pemecahannya,” kaya Aully.

    Namun begitu, Aully mengatakan, perlu pendalaman lebih lanjut terhadap kondisi psikologi pelaku. “Tentunya perlu kita lakukan penggalian akan kepribadian dan motif-motif yang ada dalam dirinya (pelaku),” kata Aully.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada Menteri KKP Edhy Prabowo Di Balik Lobster

    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dilaporkan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi pada Rabu dini hari, 25 November 2020.