Suami-istri Muncikari Artis ST dan MA Raup Untung Hingga Rp 300 Juta

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi muncikari. Shutterstock

    Ilustrasi muncikari. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - AR dan CA, pasangan suami istri tersangka muncikari artis ST dan MA, mengaku sudah melakoni pekerjaan itu sejak satu tahun yang lalu. Kepada polisi, mereka berdua mengaku mengenal ST dan MA dari pergaulan.  

    "Total keuntungan selama satu tahun ini mencapai Rp 200 sampai Rp 300 juta," kata Kapolres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Djarwoko di kantornya, Jumat, 27 November 2020. 

    Menurut Djarwoko, tak hanya artis ST dan MA saja yang ditawarkan kedua muncikari ini dalam prostitusi online. Masih ada empat orang artis lain yang mereka tawarkan. “Ada kelompok khusus untuk artis yang jual diri," ujar Djarwoko. Polisi sedang menyelidiki untuk menangkap mereka. 

    Kepada polisi, para artis itu mengaku melakukan prostitusi karena terdesak kebutuhan ekonomi. Satu kali kencan, mereka mematok tarif Rp 25-30 juta. Jika kencan dengan ST dan MA sekaligus, tarifnya Rp 110 juta. Tapi, hanya Rp 60 juta jatah dua artis, selebihnya untuk muncikari.  

    Praktik prostitusi yang dilakoni artis sinetron ST dan MA terbongkar saat digrebek polisi pada Kamis lalu. Mereka ditangkap di Hotel Sunlight Sunter, Jakarta Utara dengan sejumlah alat bukti seperti alat kontrasepsi dan ponsel.

    Saat digrebek, Djarwoko mengatakan kedua artis itu tengah berhubungan intim bertiga di satu kamar. Sedangkan kedua muncikari, AR dan CA menunggu di lobi hotel. 

    Sampai saat ini polisi masih menetapkan status ST, MA, dan pelanggannya sebagai saksi saja. Sedangkan AR dan CA sudah berstatus tersangka dan dibidik dengan Pasal 2 ayat 1 UU 21 tahun 2007, subsider 296 KUHP juncto 506 KUHP tentang perdagangan orang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.