Penyebar Video Azan Hayya Alal Jihad Terancam Penjara 6 Tahun

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus menjelaskan kasus seruan azan hayya alal jihad di kantornya, Kamis, 3 Desember 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus menjelaskan kasus seruan azan hayya alal jihad di kantornya, Kamis, 3 Desember 2020. Tempo/M Yusuf Manurung

    TEMPO.CO, Jakarta - Tersangka penyebaran video berisi kumandang azan hayya alal jihad dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE.

    "Ancaman pidananya enam tahun penjara," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus di kantornya, Kamis, 3 Desember 2020.

    Selain dengan UU ITE, Yusri mengatakan bahwa tersangka juga dijerat dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yakni pada Pasal 156 A juncto Pasal 160.

    Tersangka berinisial H ditangkap polisi di rumahnya kawasan Cakung, Jakarta Timur pada hari ini, Kamis, 3 Desember 2020. Lelaki kelahiran 14 Februari 1988 itu merupakan seorang kurir dokumen di sebuah perusahan swasta di Jakarta.

    Video viral azan hayya alal jihad disebarkan tersangka di akun Instagram miliknya, yakni @hashophasan. Melalui akun Instagram itu, kata Yusri, video disebarkan secara masif.

    "Video azan itu didapatkan pelaku dari grup Whatsapp bernama FMCO News," kata Yusri.

    Menurut Yusri, penangkapan dilakukan berdasar laporan polisi yang diterima Polda Metro Jaya. Pelapor disebut melihat postingan H pada 29 November 2020. Unggahan itu dinilai bisa menimbulkan provokasi.

    "Seolah-olah Indonesia sedang berjihad dan bertarung melawan musuh," kata Yusri.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.