Abu Bakar Baasyir Bebas, Keluarga Hindari Kerumunan Saat Penjemputan di Lapas

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa Abu Bakar Baasyir memasuki ruang sidang terkait kasus dugaan tindak terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (13/4). Persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi kali ini terdakwa bersama tim kuasa hukumnya kembali memilih 'walk out' dari persidangan. TEMPO/Yosep Arkian

    Terdakwa Abu Bakar Baasyir memasuki ruang sidang terkait kasus dugaan tindak terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (13/4). Persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi kali ini terdakwa bersama tim kuasa hukumnya kembali memilih 'walk out' dari persidangan. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Bogor - Keluarga Abu Bakar Baasyir akan membatasi jumlah penjemput pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu dari Lapas Gunung Sindur Bogor pada Jumat, 8 Januari 2021.

    Putra Abu Bakar Baasyir, Abdul Rahim alias Iim mengatakan keluarga sengaja membatasi penjemput untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan Baasyir yang akan bebas setelah menjalani vonis 15 tahun penjara.  

    Abdul Rahim Baasyir mengatakan penjemputan hanya dilakukan oleh keluarga dan penasehat hukum saja. Keluarga menghindari banyak orang ikut menjemput karena bisa menimbulkan kerumunan di masa pandemi ini.

    “Yang jelas kami lebih prioritas bagaimana kenyamanan beliau, karena kan mau menempuh perjalanan jauh ke Solo. Ya bagaimana caranya beliau terjagalah,” kata Abdul Rahim ketika dihubungi melalui telepon, Selasa 5 Januari 2020.

    Menurut Abdul Rahim, anggota keluarga yang akan menjemput Baasyir pun tidak akan banyak, sesuai dengan prosedur keamanan. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, kepulangan Abu Bakar Baasyir dari Lapas Gunung Sindur ke kediamannya di Solo akan dikawal oleh detasemen khusus 88.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.