Epidemiolog Sebut Covid-19 Sulit Dikendalikan Bila DKI Tak Serius Perketat PSBB

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tiba untuk menjalani isolasi di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Sabtu, 9 Januari 2021. Jumlah kasus terkonfirmasi positif virus Corona COVID-19 bertambah 10.046 kasus pada 9 Januari. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tiba untuk menjalani isolasi di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Sabtu, 9 Januari 2021. Jumlah kasus terkonfirmasi positif virus Corona COVID-19 bertambah 10.046 kasus pada 9 Januari. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menyarankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serius menerapkan pengetatan PSBB. Bila tak ada pengawasan, diprediksi kasus Covid-19 akan terus bertambah. 

    "Melihat kondisi wabah di Jakarta saat ini menurut saya sangat sulit ditekan. Bahkan potensinya akan terus bertambah jika pengetatan tidak diawasi maksimal," kata Tri saat dihubungi, Senin, 11 Januari 2021.

    Menurut Tri, penularan virus corona masih sulit ditekan karena rasio positif di DKI masih tinggi. Bahkan angkanya telah tembus di atas 12 persen. Padahal organisasi kesehatan dunia (WHO) menyaratkan kebijakan pelonggaran atau relaksasi bisa dilakukan jika angka rasio positif di bawah 5 persen.

    "Kita angka di atas 10 persen saja masih ada toleransi 25 persen. Kebijakan sekarang masih setengah-setengah," ujarnya.

    Menurut Tri, beberapa pekan ke depan Pemerintah DKI dan wilayah di sekitarnya bakal dihadapkan dengan situasi yang berat dalam menanggulangi wabah ini. Sebabnya, ia memprediksi akan terjadi lonjakan pasien Covid-19 imbas libur panjang akhir tahun yang mulai terlihat.

    Tri menyarankan Pemerintah DKI dan kota-kota di sekitarnya menyiapkan penambahan bangsal isolasi dan ruang perawatan intensif. Sebabnya bangsal yang tersedia saat ini sudah tidak bisa menampung penambahan pasien Covid-19.

    "Selain ruang perawatan, yang harus ditambah adalah tenaga kesehatan. Tidak mungkin tenaga kesehatan yang sekarang bisa menangani karena mereka juga sudah kelelahan," ujarnya.

    Selain itu, Tri menyarankan Pemerintah DKI tidak berharap banyak terhadap vaksin Covid-19 dalam menekan penularan wabah di Ibu Kota.

    Baca juga: Pergub PSBB Jakarta, Anies Baswedan Atur Soal Upaya Paksa Isolasi

    Epidemiolog itu mengatakan jumlah vaksin Covid-19 yang tersedia bagi warga Jakarta masih sangat sedikit dibandingkan jumlah warga Ibu Kota. Solusi untuk menekan wabah saat ini adalah mengawasi pengetatan PSBB. "Vaksin belum bisa menjanjikan pengurangan kasus di Jakarta. Jakarta harus serius dan jangan ada pelonggaran kalau mau mengendalikan wabah ini," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Baru Pengobatan Covid-19 Untuk Hadapi Ancaman Gelombang Ketiga

    Terobosan Baru Pengobatan Covid-19 Untuk Hadapi Ancaman Gelombang Ketiga