Hari Pertama PPKM, Penumpang KRL Commuter Jabodetabek Turun 13 Persen

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas penumpang  KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis 24 Desember 2020. Pada libur Natal dan Tahun Baru pemerintah Provinsi DKI Jakarta membatasi jam operasional KRL Commuter Line dan MRT.  TEMPO/Subekti

    Aktivitas penumpang KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis 24 Desember 2020. Pada libur Natal dan Tahun Baru pemerintah Provinsi DKI Jakarta membatasi jam operasional KRL Commuter Line dan MRT. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - PT KAI Commuter mencatat penumpang KRL Jabodetabek berkurang 13 persen pada hari pertama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Senin pagi.

    Juru bicara PT KAI Commuter Anne Purba mengatakan hingga pukul 08.00 jumlah penumpang KRL sebanyak 95.440 orang atau berkurang sekitar 13 persen dibanding waktu yang sama pada Senin pekan lalu yang mencapai 109.297 orang. "Pagi ini terlihat kondisi seluruh stasiun kondusif," kata Anne melalui keterangan tertulisnya, Senin, 11 Januari 2021.

    KAI Commuter mulai menyesuaikan operasional KRL dengan 964 perjalanan KRL hari ini. Operasional akan dimulai pukul 04.00-22.00 sejalan dengan pemberlakuan PPKM Jawa Bali.

    Sejumlah stasiun KRL mencatat penurunan jumlah pengguna antara lain Stasiun Citayam 8.098 pengguna atau turun 4 persen dibanding waktu yang sama pekan lalu, Stasiun Bogor tutun 6.225 pengguna atau 27 persen, dan Stasiun Rangkasbitung 2.871 pengguna, turun 13 persen

    KAI Commuter berharap para pengguna dapat mengatur perjalanannya dengan lebih fleksibel dan memiliki kesadaran untuk tidak naik ke dalam kereta yang telah terisi oleh para pengguna sesuai marka yang ada.

    "Informasi jadwal, posisi kereta, dan pantauan kepadatan di stasiun dapat dilihat melalui aplikasi KRL Access."


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.