Epidemiolog Ingatkan Lagi Agar Pemerintah Tambah Rumah Sakit Khusus Covid-19

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial suasana Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Kamis, 11 September 2020. Rencananya dua tower tambahan akan dipergunakan sebagai ruang perawatan pasien. ANTARA/Galih Pradipta

    Foto aerial suasana Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Kamis, 11 September 2020. Rencananya dua tower tambahan akan dipergunakan sebagai ruang perawatan pasien. ANTARA/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan pemerintah perlu menambah rumah sakit darurat Covid-19. Dengan begitu, semua pasien Covid-19 yang membutuhkan pengobatan dapat tertampung.

    "Setiap kabupaten dan kota, terutama di Jawa ini, bikin rumah sakit daruratnya ditambah," kata epidemiolog itu saat dihubungi, Jumat, 22 Januari 2021.

    Kapasitas rumah sakit rujukan Covid-19 di Jabodetabek kian menipis. Penanganan pandemi harus dilakukan secara paralel. Sejalan dengan pembangunan rumah sakit darurat, ujar Dicky, strategi 3T dan 5M juga diperketat.

    3T adalah akronim dari tracing (pelacakan), testing (pengetesan), dan treatment (perawatan). Sedangkan 5M, yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

    Dia menyarankan pemerintah membuat klinik khusus pasien yang menderita gejala Covid-19 untuk memperkuat Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Tujuannya agar warga yang terinfeksi virus corona bisa segera terlacak dan menjalani isolasi.

    "Supaya tidak menjadi kasus yang lebih parah," ujar dia.

    Sayangnya, kata Dicky, strategi 3T dan 5M saat ini tidak memadai. Sehingga, jumlah kasus Covid-19 terus bertambah dan rumah sakit kehabisan tempat tidur dan unit perawatan intensif (ICU).


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.