Cerita Anies Baswedan Melihat Pasien Covid-19 Meninggal di RSUD Cengkareng

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, melihat layar monitor saat memantau ruang ICU dari ruang kontrol rumah sakit Cengkareng. RSUD Cengkareng, salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 yang memiliki daya tampung 80 ICU dan 240 ruang rawat isolasi non ICU. Facebook/@Anies Baswedan

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, melihat layar monitor saat memantau ruang ICU dari ruang kontrol rumah sakit Cengkareng. RSUD Cengkareng, salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 yang memiliki daya tampung 80 ICU dan 240 ruang rawat isolasi non ICU. Facebook/@Anies Baswedan

    TEMPO.CO, Jakarta -Gubernur Anies Baswedan menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, salah satu rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19 pada Ahad, 25 Januari 2021.

    Dalam cerita yang ia unggah ke akun Facebooknya, Anies menggambarkan bagaimana ia melihat seorang pasien Covid-19 meninggal dunia.

    “Pasien itu baru saja ditutup kain putih. Ikhtiar manusia berhenti di situ. Semua alat dilepas, Ia telah jadi jenazah. Kematian dalam kesendirian, tanpa ada keluarga di sampingnya,” tulis Anies dalam unggahan di akun Facebooknya.  

    Anies melihat peristiwa itu di ruang kontrol RSUD Cengkareng. Dalam ruangan itu terdapat layar televisi yang menampilkan kondisi kamar setiap pasien yang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).

    Kondisi itu terlihat pada foto di unggahan yang sama. Terlihat Anies tengah menatap layar televisi yang menampilkan kondisi salah satu pasien yang seluruh tubuhnya sudah ditutup kain putih. 

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto saat menginspeksi RSUD Cengkareng. Instagram

    Tak lama kemudian, kata Anies, ia menemui keluarga pasien Covid-19 itu di depan ruang jenazah.

    “Duka mereka terasa teramat dalam. Sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan akan terjadi secepat itu. Kebersamaan dan gelak tawa berpuluh tahun keluarga itu, kini tersimpan menjadi kenangan,” kata Anies. Jenazah itu pun dikebumikan menjelang maghrib. 

    Lewat cerita tersebut Anies mengajak masyarakat untuk menyadari ancaman nyata dari Covid-19. Menurut dia, saat ini kasus Covid-19 paling banyak terjadi pada klaster keluarga. Anies mengatakan mayoritas yang terpapar adalah mereka yang berusia muda, namun, yang paling banyak meninggal adalah berusia tua.

    “Teman-teman semua, ini bukan fiksi dan bukan sekadar angka statistik. Ini akhir dari sebuah perjalanan anak manusia yang diterpa wabah: bermula dari tertular COVID-19 dan berujung pada kematian,” ucap dia. 

    Baca juga :  RS Rujukan Covid-19 Kolaps, Epidemiolog Ingkatkan Risiko Lonjakan Kematian 

    Anies Baswedan pun meminta agar masyarakat taat menerapkan protokol kesehatan manakala harus berkegiatan di luar rumah, seperti mencuci tangan saat pulang ke rumah, memakai masker, dan menghindari kontak fisik dengan anggota keluarga lain. “Berjarak, tak bersalaman dengan keluarga itu terasa aneh, tapi ingat lah terpisah untuk isolasi bahkan berpisah selamanya itu jauh amat tidak nyaman. Jadi jangan lelah, jangan lengah,” tutur Anies. 

    ADAM PRIREZA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.