Epidemiolog Sebut PSBB Jakarta Tak Signifikan Turunkan Kasus Covid-19

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan kasus Covid-19 di Jakarta sedikit menurun. Salah satu penyebabnya, dari perkiraan Pandu, karena pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

    "Efek dari pembatasan mungkin ada," kata dia saat dihubungi, Jumat, 29 Januari 2021.

    Pandu menuturkan, pergerakan penduduk keluar rumah menurun. Dia tak merinci datanya. Akan tetapi, lanjut dia, pengetatan pembatasan atau disebut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) belum bisa melandaikan jumlah kasus Covid-19 secara signifikan.

    Menurut dia, PSBB seperti yang berlangsung pada April 2020 memiliki dampak cukup besar untuk mengendalikan penularan virus Corona. Pembatasan juga harus dibarengi dengan pengetatan 3T (tracing, testing, dan treatment) dan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir, dan menjaga jarak.

    Sebab, pengetatan tak mungkin berlangsung 100 persen lantaran masih ada sektor tertentu yang perlu berkegiatan.

    "Mereka yang berkegiatan harus benar-benar mempraktikkan itu (3M)," ucap dia.

    Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan memperketat PSBB mulai 11 Januari 2021 sampai kini. Keputusan itu merujuk pada arahan pemerintah pusat yang menerapkan PPKM mengingat kasus nasional melambung tinggi.

    Penambahan kasus Covid-19 di Ibu Kota lebih dari seribu setiap harinya sejak pertengahan November 2020. Bahkan, penambahan kasus harian kerap tembus 2-3 ribu mulai akhir Desember 2020 hingga sepanjang Januari 2021.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H