Terduga Teroris di Sulsel Ngaku Anggota FPI, Eks Pengurus: Kami Tidak Tahu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kuasa hukum Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Aziz Yanuar saat datang ke Polda Metro Jaya untuk mengambil surat penetapan tersangka pada Jumat, 11 Desember 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Kuasa hukum Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Aziz Yanuar saat datang ke Polda Metro Jaya untuk mengambil surat penetapan tersangka pada Jumat, 11 Desember 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menyatakan, belasan terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang bakal dipindah ke Jakarta dari Makassar merupakan anggota Front Pembela Islam atau FPI. Menanggapi hal itu, mantan Sekretaris Bantuan Hukum DPP FPI Aziz Yanuar menyatakan pihaknya tidak mengenal mereka.

    "Kami tidak tahu," ujar Aziz singkat saat dihubungi Tempo, Kamis, 4 Februari 2021.

    Selain itu, Aziz mengatakan pihaknya juga tidak mengetahui klaim para terduga teroris yang menyebut sebagai mantan anggota FPI. "Iya dan tidak tahu mereka mantan dan seterusnya," kata Aziz.

    Baca juga: Polda Sulsel: Terduga Teroris yang Dibawa ke Jakarta adalah Anggota FPI

    Dalam video pengakuan salah seorang anggota JAD yang ditangkap, ia mengaku telah dibaiat untuk setia kepada Daulatul Islam pimpinannya adalah Abu Bakar Bagdhadi, yang merupakan pemimpin ISIS. Pembaiatan itu, menurutnya, dilakukan saat DPP FPI yang diwakili Munarman, menyatakan dukungannya terhadap Daulatul Islam di Makassar pada Januari 2015.

    Mengenai klaim ini, Tempo sudah berusaha menghubungi Munarman untuk mengonfirmasinya. Namun hingga berita ini ditulis, Munarman belum merespons pertanyaan Tempo itu.

    Lebih lanjut, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Komisaris Besar E. Zulfan telah membenarkan informasi tersebut. Ia menyebut belasan anggota JAD itu merupakan anggota aktif FPI.

    Keaktifan mereka sebagai anggota FPI diketahui ketika penyidik melakukan pemeriksaan. Alhasil, Tim Densus 88 memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan di Jakarta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro - Kontra Syarat Tes PCR Covid-19 untuk Penerbangan Jawa - Bali

    Syarat terbaru naik transportasi udara antara lain wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR. Kebijakan ini dinilai menyulitkan tak hanya penumpang.