Anies Baswedan Harus Benahi Sungai, Pengamat: Bukan Gusur tapi Geser

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara ketinggian air Kali Ciliwung di kawasan Kampung Pulo, Jakarta, Senin, 8 Februari 2021.  Banjir di lokasi tersebut membuat rumah warga  di Kampung Tanah Rendah terendam banjir hingga atap rumah. TEMPO/Subekti.

    Foto udara ketinggian air Kali Ciliwung di kawasan Kampung Pulo, Jakarta, Senin, 8 Februari 2021. Banjir di lokasi tersebut membuat rumah warga di Kampung Tanah Rendah terendam banjir hingga atap rumah. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menyarankan Gubernur DKI Anies Baswedan mempercepat pembenahan 13 sungai secara bertahap untuk mencegah banjir.

    "Pembenahan sungai di Jakarta itu mutlak dikerjakan kalau mau mencegah banjir," kata Nirwono melalui pesan singkat, Jumat, 12 Februari 2021.

    Ia menjelaskan program penataan sungai di Ibu Kota sudah mempunyai pembagian yang jelas. Pemerintah DKI bertugas untuk membebaskan lahan, dan merelokasi warga.

    Sedangkan Balai Besar Wilayah Ciliwung Cisadane Kementerian PUPR bertugas mengeruk, melebarkan badan sungai dan menata bantarannya. Penataan bantaran itu bisa diterapkan dengan konsep naturalisasi maupun dielaborasi dengan normalisasi.

    "Jadi jangan dipertentangkan lagi naturalisasi atau normalisasi. Karena keduanya sama-sama bisa diadopsi," ujarnya.

    Masalahnya, menurut Nirwono, sejak 2017 Anies Baswedan belum berani merelokasi warga yang tinggal di bantaran kali. Padahal konsep naturalisasi yang diusungnya tetap harus memindahkan warga dari bantaran ke rusun terdekat. "Jadi bukan menggusur, tapi menggeser saja warga ke rusun."


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.