Kasus Helena Lim, Polisi Fokus Soal Identitas Apotekernya

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat (tengah) bersama Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus (kiri) dan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadireskrimum) Jean Calvijn Simanjuntak saat memberikan keterangan pers terkait meninggalnya alhamarhum Yudi Prabowo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2020. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat (tengah) bersama Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus (kiri) dan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadireskrimum) Jean Calvijn Simanjuntak saat memberikan keterangan pers terkait meninggalnya alhamarhum Yudi Prabowo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2020. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Tempo.co, Jakarta - Kasus vaksinasi Covid-19 Helena Lim sampai saat ini masih terus diselidiki polisi. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat mengatakan pihaknya masih mendalami dugaan pemalsuan identitas yang dilakukan oleh influencer berjuluk Crazy Rich PIK Helena Lim.

    Helena berurusan dengan polisi setelah menerima vaksin Covid-19 jatah tenaga kesehatan, dengan mengaku sebagai pegawai apotek di Kebon Jeruk. 

    "Pertanyaannya apakah dia memalsukan identitas sebagai apoteker atau tidak? titik penyelidikannya hanya di situ saja," ujar Tubagus Ade di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, 19 Februari 2021. 

    Untuk menggali fakta tersebut, Tubagus mengatakan pihaknya akan kembali mengundang beberapa saksi untuk dimintai keterangan. Jika Helena terbukti memalsukan identitas sebagai apoteker demi mendapat vaksin Covid-19, Tubagus mengatakan pihaknya tak akan segan menjeratnya pakai Pasal 265 tentang pemalsuan identitas dengan ancaman hukuman 8 tahun penjara. 

    Baca juga: Vaksin untuk Helena Lim, Ombudsman Duga Pemberi Kerja Palsukan Data

    "Sementara ya bisa dikenakan Pasal 265 ini. Apabila dia bukan nakes, bisa kena pemalsuan identitas," ujar Tubagus. 

    Kasus ini berawal saat Helena Lim memamerkan telah mendapat vaksin Covid-19 di instagram pribadinya. Dalam video yang viral, Helena Lim melakukan vaksin Covid-19 di Puskesmas Kebon Jeruk bersama tiga orang temannya. Mereka memamerkan tabung vaksin Covid-19 dan luka di lengan bekas disuntik vaksin. 

    "Habis divaksin bisa terbang ke mana-mana. Semoga vaksinnya berhasil," ujar Helena dalam video tersebut.

    Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan Helena mendapatkan vaksin setelah menunjukkan surat bekerja di apotek. Widyastuti mengatakan pegawai apotek memang termasuk dalam perangkat tenaga kesehatan yang berhak mendapat vaksin Covid-19. 

    Namun, belakangan Ombudsman Perwakilan DKI Jakarta menemukan indikasi sebaliknya. Mereka menemukan dugaan surat keterangan apoteker yang Helena Lim sertakan itu adalah palsu. 

    M JULNIS FIRMANSYAH 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Deja Vu Kasus Covid-19 Ibu Kota, Gelombang Kedua Mengintai DKI Jakarta

    Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengatakan lonjakan kasus Covid-19 di DKI Jakarta mirip periode sebelumnya. Waspada gelombang kedua wabah virus corona!