Langganan Banjir, Warga Cikarang Bekasi Ingin Presiden Meninjau

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengevakuasi keluarganya mengunakan perahu rakit saat banjir di Desa karangligar, Karawang, Jawa Barat, Rabu 1 Januari 2020. Banjir yang disebabkan meluapnya air sungai Cibeet di wilayah itu merendam sebanyak 212 rumah dengan ketinggian air mencapai dua meter lebih mengakibatkan 905 jiwa terpaksa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

    Warga mengevakuasi keluarganya mengunakan perahu rakit saat banjir di Desa karangligar, Karawang, Jawa Barat, Rabu 1 Januari 2020. Banjir yang disebabkan meluapnya air sungai Cibeet di wilayah itu merendam sebanyak 212 rumah dengan ketinggian air mencapai dua meter lebih mengakibatkan 905 jiwa terpaksa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

    TEMPO.CO, Bekasi- Tokoh masyarakat  Desa Labansari di Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Muhardi Saputra, 42 tahun mengatakan Sungai Cibeet menjadi penyebab banjir  tahunan yang semakin tahun semakin parah. Tahun ini tiga desa jadi korban, Labansari, Cipayung, dan Bojongsari.

    “Saya ingin Bapak Presiden Jokowi mau turun langsung ke sini, melihat kondisi terkini sungai."

    Baca: Sebab Banjir di Kemang, Pengamat: Perubahan Drastis Tata Ruang

    Banjir meninggalkan sampah, ranting pohon, bambu, serta lumpur di lingkungan permukiman warga Desa Labansari. "Ketebalan lumpur hingga 10 sentimeter, lumpur ini yang mendominasi sisa-sisa banjir," kata Muhardi.

    Warga Desa Labansari di Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis mulai bergotong royong membersihkan sisa akibat luapan air Sungai Cibeet. Di desa itu 12 RT kebanjiran, dua RT masih tergenang air.

    “10 RT ini yang sedang dibersihkan warga karena sudah surut," kata Muhardi.

    Dengan peralatan seadanya, warga membersihkan saluran air, tempat ibadah, dan lingkungan permukiman dari sampah dan lumpur sisa banjir. "Mudah-mudahan bersih-bersih kampung ini bisa segera selesai agar warga bisa kembali beraktivitas seperti semula."

    Menurut dia, banjir menyebabkan kerusakan tanggul, saluran air, jembatan, dan jalan desa. Sedikitnya 20 rumah warga rusak akibat banjir.

    "Banjir juga menyebabkan aset desa seperti komputer, kursi dan meja, laptop, lemari, TV, hingga mesin pompa air rusak," kata Muhardi.

    Warga desa yang kebanjiran membutuhkan bantuan makanan dan pakaian karena persediaan mereka terbawa arus banjir atau rusak akibat banjir.

    Muhardi berharap pemerintah segera membenahi kawasan Sungai Cibeet supaya banjir tidak lagi berulang.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.