DKI Bangun Jalur Sepeda Permanen: ITDP Sebut Hambatan Terbesar Soal...

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepeda melintasi jalur khusus sepeda yang telah diberikan pembatas jalur permanen di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat, 26 Februari 2021. Pemprov DKI Jakarta akan membangun jalur sepeda permanen di kawasan Sudirman-Thamrin sepanjang 11,2 km menggunakan planter box sehingga pesepeda dan pengendara kendaraan bermotor memiliki pembatas yang jelas dan tidak bisa saling mererobos. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pesepeda melintasi jalur khusus sepeda yang telah diberikan pembatas jalur permanen di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat, 26 Februari 2021. Pemprov DKI Jakarta akan membangun jalur sepeda permanen di kawasan Sudirman-Thamrin sepanjang 11,2 km menggunakan planter box sehingga pesepeda dan pengendara kendaraan bermotor memiliki pembatas yang jelas dan tidak bisa saling mererobos. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Jakarta - Transport Associate ITDP Indonesia, Ciptaghani Antasaputra, mengatakan pemerintah mempunyai hambatan besar terkait pemahaman masyarakat dalam merealisasikan pembangunan jalur sepeda di Ibu Kota.

    "Hambatan terbesar pemerintah dalam merealisasikan jalur sepeda adalah pemahaman yang salah terhadap penggunaan sepeda yang hanya dipandang sebagai alat olahraga," kata Ciptaghani melalui pesan singkatnya, 26 Februari 2021.

    Padahal, kata dia, sepeda juga digunakan banyak orang sebagai alat mobilitas utama mereka bahkan sebagai penggerak ekonomi. Selain itu, Pemerintah DKI juga mesti memperhatikan lima unsur prinsip utama dalam membangun jalur sepeda di Ibu Kota.

    Kelimanya adalah keselamatan dan keamanan, kenyamanan, kemenerusan, kelangsungan rute, dan kemenarikan.

    Prinsip keselamatan dan keamanan mutlak perlu dipenuhi salah satu caranya dengan jalur sepeda terproteksi seperti pembangunan jalur sepeda permanen yang dibangun pemerintah saat ini.

    "Dengan adanya jalur sepeda yang memenuhi prinsip-prinsip tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melihat dan menggunakan sepeda sebagai moda transportasi," katanya.

    Selain itu, ia menambahkan dalam perencanaan pembangunan jalur sepeda permanen seluruhnya atau tidak bakal bergantung beberapa faktor.

    Sejumlah faktor yang perlu diperhatikan adalah kecepatan lalu lintas di jalan protokol dimana memang pesepeda memerlukan jalur sepeda yang terproteksi.

    Tapi jalur sepeda tidak hanya tersedia dijalan-jalan protokol saja, tapi juga jalan lokal dan penghubung. "Di mana jalur sepeda bisa berbagi dengan pengguna jalan lain yaitu pejalan kaki dan kendaraan ber motor dengan kecepatan rendah."

    Baca juga : DKI Bangun Jalur Sepeda Permanen, ITDP Ingatkan Perencanaan yang Matang

    Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menargetkan pembangunan jalur sepeda permanen sepanjang 11,2 kilometer rampung pada Maret 2021.

    Adapun pembangunan jalur sepeda yang terbentang dari Bundaran Senayan sampai Bundaran Hotel Indonesia itu diperkirakan memakan biaya sekitar Rp 30 miliar, dari pendanaan pihak ketiga. "Saat ini sudah dalam proses konstruksi," kata Syafrin.

    Pemerintah DKI berencana mengembangan jalur sepeda tahun 2019 sampai 2030 sepanjang 578,8 km. Jalur sepeda eksisting yang sudah terbangun sepanjang 63 km pada tahun 2019.

    IMAM HAMDI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.