Ada Kritik Soal Rumah Panggung di Kampung Melayu, Wagub DKI: Kami Dengar

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, bersama Wakil Gubernur Riza Patria menikmati kopi sambil berbincang di Kopi Oey, Jalan Sabang, Jakarta Pusat, 25 Maret 2021. Anies dan Riza mampir untuk menikmati secangkir kopi usai bersepeda menuju Balaikota. Facebook/Anies Baswedan

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, bersama Wakil Gubernur Riza Patria menikmati kopi sambil berbincang di Kopi Oey, Jalan Sabang, Jakarta Pusat, 25 Maret 2021. Anies dan Riza mampir untuk menikmati secangkir kopi usai bersepeda menuju Balaikota. Facebook/Anies Baswedan

    TEMPO.CO, Jakarta - Rencana Gubernur DKI Anies Baswedan membuat rumah panggung untuk warga di daerah Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur mendapat kritikan. Wakil Gubernur Riza Patria mengatakan, pembangunan itu bukan hanya keputusan sepihak dari Anies atau Pemprov saja.

    "Kami mendengarkan masukan dari semua pihak dan para ahli. Dan kami diskusikan dengan DPRD, tidak ada keputusan sepihak semua bersama DPRD," kata Riza di Balai Kota, Selasa malam, 6 April 2021.

    Riza menyampaikan bahwa Pemprov DKI menampung semua aspirasi termasuk kritikan. Sebelumnya, kritikan datang dari Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Gembong Warsono. Ia menyebut rencana Anies untuk pembuatan rumah panggung bagi warga Kebon Pala itu tak efektif untuk mengatasi banjir.

    Malah, kata Gembong, pembangunan itu akan memicu kecemburuan bagi daerah rawan banjir lainnya. "Sudah pasti akan menimbulkan kecemburuan sosial, misalnya orang Cikoko di daerah Jakarta Selatan bisa aja bilang "memang yang banjir cuman Kampung Melayu doang, Pak?"," kata Gembong saat dihubungi melalui telepon, Senin, 5 April 2021.

    Baca juga: Forum Alumni Pengairan Sebut Penanganan Banjir Jakarta Harus Terintegrasi

    Gembong mengatakan, program penanganan banjir seharusnya tidak seperti yang dilakukan Pemprov DKI di Kampung Melayu dengan meninggikan rumah warga. Menurut dia, program tersebut sangat tidak elok jika dikatakan sebagai solusi untuk penanganan banjir di DKI Jakarta.

    "Enggak bisa mengatasi banjir sepotong-sepotong, enggak bisa sesuai selera. Normalisasi, tidak ada cara lain, kalau daerah banjir tidak ada cara lain selain normalisasi," kata Gembong.

    Menjawab kritikan itu, Riza Patria mengatakan bahwa pembangunan rumah panggung itu untuk menghindari banjir. Kita lihat itu kan pendapat setiap pribadi anggota dewan para pengamat, para ahil, setiap warga boleh memberikan pendapat. Silakan nanti kita diskusi terkait konsep penanganan banjir upamanya di Kebon Pala, Condet, Kalibata, kami sangat terbuka dengan masukan," kata Riza.

    Pemprov DKI lewat akun Instagramnya memaparkan rencana renovasi 40 rumah di Kebon Pala menjadi rumah panggung.

    "Rumah warga akan dibangun berlantai tiga. Untuk bagian atasnya dijadikan rumah, lalu bagian bawahnya dibuat model panggung setinggi 3,5 meter untuk usaha dan interaksi sosial. Sebelum lebaran kami targetkan ini sudah selesai," kata Wali Kota Jakarta Timur Muhammad Anwar seperti dikutip akun Pemprov DKI.

    Pembangunan rumah panggung ini akan menggunakan dana dari Baznas Bazis DKI dan Karya Bakti TNI.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.