Seorang Pria Tewas Dikeroyok karena Tagih Utang Perusahaan Rp 20 Juta

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pria dikeroyok massa. Newsclick.in

    Ilustrasi pria dikeroyok massa. Newsclick.in

    Jakarta - Penagih utang, Willly Edward, 51 tahun, tewas dikeroyok ketika menagih kepada PT Evercront Utama, Jalan Kavling DPR, Blok B, No 72-73, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Ia menagih bersama Suhendra, 41 tahun, yang juga babak belur.

    Kepala Polres Tangerang Komisaris Besar Deonijiu De Fatima mengatakan Willly dan Suhendra mewakili PT Agung menagih utang sebesar Rp 20 juta pada Rabu, 9 April 2021 sekitar pukul 14.00. "Saat menagih, keduanya terlibat cekcok mulut dengan tersangka EB yang menolak membayar utang," ujar Deonijiu saat dikonfirmasi, Selasa, 13 April 2021. Cekcok menjadi adu jotos. 

    Tak lama setelah itu, empat anak buah EB datang dan membantu mengeroyok Willy dan Hendra. Keduanya dibawa ke ruang mesin dan kamar mandi lalu dipukuli beramai-ramai. 

    “Perbuatan tersangka melakukan kekerasan kepada kedua korban baru selesai hingga jam 17.00 WIB," ujar Deonijiu. 

    Kedua korban luka parah dan dibawa ke RSUD Kabupaten Tangerang. Setibanya di rumah sakit, dokter menyatakan Willy sudah meninggal dunia akibat kekerasan benda tumpul. 

    Berdasarkan keterangan medis, Willly menderita luka pendarahan dan sembab pada otak besar, sehingga menekan batang otak. Sedangkan Suhendra, luka memar pada wajah, kepala, telinga kanan dan kiri, serta pada bagian dadanya. 

    “Lima tersangka ditangkap oleh petugas dan diperiksa di Unit Jatantras Satuan Reskrim Polres Tangerang Kota,” kata Deonijiu. Tersangka ED, EB, AD, SNM dan MS yang mengakibatkan Willy tewas, dibidik dengan Pasal 170 ayat (1), Ayat (2) dan ayat (3) KUHP dengan ancam pidana maksimal 12 tahun penjara.

    Baca: 3 Orang Tewas dalam Penembakan di Kafe Kawasan Cengkareng


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.