Kasus Covid-19 di Jakarta Naik Lagi Dua Pekan Terakhir

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga tampak mengenakan masker saat melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO) di kala masa pandemi, di kawasan perkantoran SCBD di Jakarta, Senin, 27 Juli 2020. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 per 27 Juli 2020, kasus positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 100.303 kasus, dimana 58.173 orang dinyatakan sembuh dan 4.838 orang meninggal. TEMPO/Hilman Fathurrahman w

    Warga tampak mengenakan masker saat melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO) di kala masa pandemi, di kawasan perkantoran SCBD di Jakarta, Senin, 27 Juli 2020. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 per 27 Juli 2020, kasus positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 100.303 kasus, dimana 58.173 orang dinyatakan sembuh dan 4.838 orang meninggal. TEMPO/Hilman Fathurrahman w

    TEMPO.CO. Jakarta - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan kasus Covid-19 terus naik dalam dua pekan terakhir di Ibu Kota.

    "Kami sudah mulai sedikit peningkatan harian. Kami sudah mulai peningkatan 200, 200, khawatir nanti bergerak terus," kata Widyastuti dalam diskusi daring, Jumat, 16 April 2021.

    Pada Maret 2021, tren kenaikan kasus aktif Covid-19 telah mengalahkan penurunan jika dibandingkan pada periode Januari-Februari 2021 yang mencapai 25 ribu kasus aktif. Saat ini, kasus aktif di DKI berada di posisi 6.988 kasus.

    "Artinya sangat turun sekali dibandingkan episode sebelumnya. Tentu hal ini jangan sampai melemahkan kita karena dua minggu terakhir ini mungkin terjadi peningkatan," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI itu. 

    Peningkatan kembali kasus Covid-19 terjadi karena banyak faktor. Salah satunya adalah testing di DKI yang mencapai 68 ribu spesimen per hari. Angka tersebut di atas standar WHO, tapi masih di bawah rekor DKI yang pernah mencapai 90 ribu orang per hari.

    "Kapasitas lab kami mampu 100.000 lebih per hari tetapi pemanfaatannya sekitar 68.000. Kenapa? Karena ada kebijakan pemerintah pusat dengan melalui rapid antigen," ujarnya. 

    Melalui metode tes PCR, rasio positif atau positivity rate sepekan terakhir mencapai 9,6 persen. Sedangkan rapid test antigen berkisar 3.000 orang per hari. Namun, pemeriksaan tes antigen mesti diulang karena kurang akurat. "Hasil rapid test antigen negatif bisa saja sebenarnya positif. Maka tes harus diulang melalui PCR."

    Baca juga: Kasus Covid-19 Kota Bogor Turun, Bima Arya Khawatir Muncul Gelombang Kedua


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.