KTT ASEAN, Gowes for Democracy Gelar Solidaritas untuk Myanmar

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta aksi bersepeda membawa poster saat melakukan aksi unjuk rasa bertajuk Gowes for Democracy #SaveMyanmar di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Sabtu, 17 April 2021. Aksi tersebut sebagai bentuk mengecam kudeta dan menuntut agar militer Myanmar (Tatmadaw) segera mengakhiri kekerasan serta mengembalikan demokrasi sesuai dengan keinginan rakyat Myanmar. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Peserta aksi bersepeda membawa poster saat melakukan aksi unjuk rasa bertajuk Gowes for Democracy #SaveMyanmar di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Sabtu, 17 April 2021. Aksi tersebut sebagai bentuk mengecam kudeta dan menuntut agar militer Myanmar (Tatmadaw) segera mengakhiri kekerasan serta mengembalikan demokrasi sesuai dengan keinginan rakyat Myanmar. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 70 pesepeda yang tergabung dalam komunitas Gowes for Democracy menggelar acara solidaritas untuk Myanmar pada Sabtu sore, 24 April 2021. Mereka bersepeda dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Menteng menuju Blok M, tempat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN dilaksanakan. 

    Namun saat rombongan tiba di dekat Al Azhar, Jakarta Selatan polisi yang sedang mengawasi pelaksanaan KTT ASEAN menghentikannya dan meminta para pesepeda memutar balik.

    "Tadi alasannya kurang jelas, mereka hanya melaksanakan tugas dan diskresi. Mereka menjalankan protokol karena ada tamu VVIP," ujar salah satu koordinator aksi Aghniadi kepada Tempo, Sabtu, 24 April 2021. 

    Aghniadi menjelaskan petugas tak membubarkan rombongan, tapi hanya mengarahkan agar para pesepeda tidak menuju kawasan KTT ASEAN. Para pesepeda itu akhirnya mengganti rute dengan memutar balik menuju kantor YLBHI di Menteng. 

    Adapun aksi solidaritas Myanmar itu diadakan Gowes for Democracy untuk menunjukkan kekecewaannya terhadap ASEAN, karena mengundang junta militer yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing dalam KTT itu.

    Menurut komunitas itu, mengundang junta Militer Myanmar menjadi pernyataan tak langsung ASEAN untuk melegitimasi kudeta berdarah di Myanmar. 

    "Kami juga menyayangkan ASEAN yang tidak mengundang perwakilan dari pemerintah yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (National Unity Government)," bunyi pernyataan sikap Gowes for Democracy. 

    Lebih lanjut, Adi mengatakan komunitasnya melayangkan empat tuntutan terhadap ASEAN dalam KTT itu. Tuntutan tersebut berkaitan erat dengan kehadiran Jenderal Min Aung Hlaing dan kudeta militer berdarah Myanmar yang dilakukannya. 

    1. Untuk menolak perwakilan dari junta militer Myanmar di KTT Khusus ASEAN dan sebagai gantinya membawa perwakilan dari pemerintah yang sah dan dipilih secara demokratis. 

    2. Memberikan seruan yang tegas kepada junta Militer Myanmar untuk segera menghentikan pelanggaran HAM berat. 

    3. Membuka dukungan kemanusiaan untuk seluruh wilayah konflik di Myanmar secara menyeluruh, aman dan tanpa hambatan, termasuk dukungan ke wilayah minoritas Rohingya yang telah menderita dari penyiksaan yang berkepanjangan.

    4. Membentuk respons yang solid dan terkoordinasi di antara negara-negara ASEAN, Dewan Keamanan PBB dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB dengan tujuan untuk mengirim delegasi Bersama ke Myanmar untuk melakukan pemantauan situasi, menghentikan kekerasan dan membantu negosiasi yang damai dan berdasarkan prinsip kemanusiaan.

    Baca juga: Pesepeda Jakarta Gelar Gowes for Democracy: Solidaritas Untuk Rakyat Myanmar

    M JULNIS FIRMANSYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM, Polda Metro Jaya Tutup 10 Ruas Jalan Akibat Lonjakan Kasus Covid-19

    Polisi menutup 10 ruas jalan di sejumlah kawasan DKI Jakarta. Penutupan dilakukan akibat banyak pelanggaran protokol kesehatan saat PPKM berlangsung.