Babi Ngepet di Depok, Polisi Tangkap Ustaz Pengarang Hoax

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi babi/REUTERS/Ronen Zvulun

    ilustrasi babi/REUTERS/Ronen Zvulun

    JAKARTA- Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Imran memastikan peristiwa babi ngepet di kawasan Sawangan, Depok, sebagai hoax. Seorang ustaz, Adam Ibrahim telah ditangkap lantaran menjadi otak orkestrasi kabar bohong itu. "Kami sampaikan semuanya yang sudah viral itu adalah hoax," kata Imran dalam keterangannya pada Kamis, 29 April 2021.

    Sebelumnya, penangkapan babi ngepet Depok membuat heboh masyarakat sekitar. Video penangkapan hewan yang diduga babi ngepet itu pun viral lewat pesan berantai.

    Polisi menetapkan Adam Ibrahim sebagai tersangka. Imran menjelaskan, kejadian itu berawal dari cerita warga yang mengaku kehilangan uang.

    Adam merekayasa cerita dan menyebutkan kehilangan itu diakibatkan oleh babi ngepet. Ia bersama delapan orang lainnya membeli seekor babi secara daring dari pecinta binatang. "Harganya Rp 900 ribu. Kemudian ditambah ongkos kirim Rp 200 ribu," kata Imran.

    Imran juga memastikan cerita bahwa babi yang ditangkap mengenakan kalung dan ikat kepala merah sebagai berita bohong. Adam bersama rekan-rekannya mengarang skenario bahwa 3 orang datang menggunakan sepeda motor dan salah satu di antaranya berubah menjadi babi ngepet.

    Babi itu dilepas di depan rumah Adam, sedangkan dia bersama beberapa orang lain bersiap untuk berpura-pura menangkapnya. Imran juga membantah kalau Adam dan rekan-rekannya bugil saat menangkap babi itu.

    Masing-masing punya peran. Ada yang menangkap, ada yang mengaku telanjang, ada yang membunuh babi itu, dan ada yang menguburkan. "Bukan telanjang, hanya buka baju saja," kata Imran.

    Baca: Heboh Warga Depok Tangkap Babi Ngepet, Langsung Dieksekusi

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM, Polda Metro Jaya Tutup 10 Ruas Jalan Akibat Lonjakan Kasus Covid-19

    Polisi menutup 10 ruas jalan di sejumlah kawasan DKI Jakarta. Penutupan dilakukan akibat banyak pelanggaran protokol kesehatan saat PPKM berlangsung.