Ternyata, Tersangka Hoax Babi Ngepet Depok Membeli Babi Secara Online

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi babi/REUTERS/Ronen Zvulun

    ilustrasi babi/REUTERS/Ronen Zvulun

    JAKARTA- Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Imran mengatakan ustaz Adam Ibrahim, tersangka kabar hoax babi ngepet di Sawangan, Depok, telah merencanakan aksinya sejak satu bulan lalu bersama 8 orang rekannya.

    Menurut Imran, mereka melakukan itu supaya menjadi lebih terkenal di kampungnya. "Karena ini (tersangka) merupakan salah satu tokoh, lah sebenarnya. Tapi, tokoh gak terlalu terkenal," ujar Imran dalam keterangannya pada Kamis, 29 April 2021.

    Mulanya sejumlah warga mengatakan kehilangan uang mulai dari Rp 1-2 juta. Adam dan rekan-rekannya memanfaatkan hal itu dengan mengarang cerita yang belakangan hoax bahwa ada babi ngepet yang mengambil uang warga.

    Imran bersama seorang rekannya kemudian membeli seekor babi secara online dari seorang pecinta binatang seharga Rp 900 ribu ditambah ongkos kirim Rp 200 ribu. Mereka lantas menyusun skenario, di mana ada tiga orang yang akan datang menggunakan sepeda motor dan salah satunya berubah menjadi babi ngepet.

    Babi yang sebelumnya dibeli itu lantas dilepas. Adam bersama sejumlah rekannya lantas berpura-pura menangkap hewan itu. Imran mengatakan kabar yang beredar di media sosial terkait peristiwa itu tidak benar. "Ini sudah terencana," tutur dia.

    Bahkan, kata Imran, Adam dan rekan-rekannya telah membagi tugas, siapa yang menangkap, membunuh babinya, hingga menguburkan. Imran juga membantah kalau Adam dan rekan-rekannya telanjang bulat saat menangkap babi ngepet itu. "Hanya buka baju saja," ujar Imran.

    Baca juga : Heboh Warga Depok Tangkap Babi Ngepet, Langsung Dieksekusi

    ADAM PRIREZA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM, Polda Metro Jaya Tutup 10 Ruas Jalan Akibat Lonjakan Kasus Covid-19

    Polisi menutup 10 ruas jalan di sejumlah kawasan DKI Jakarta. Penutupan dilakukan akibat banyak pelanggaran protokol kesehatan saat PPKM berlangsung.