Setengah Pedagang Warteg Jabodetabek Telah Mudik, Kowantara: Daya Beli Anjlok

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang Warteg menunggu pembeli datang di sebuah warteg saat Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Jawa dan Bali di Jakarta, Kamis 28 Januari 2021. Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) menyatakan, sekitar 50 persen atau 20.000 unit warteg di Jabodetabek terancam gulung tikar pada 2021. Hal itu disebabkan karena tidak mampu membayar atau memperpanjang sewa tempat akibat pandemi Covid-19. TEMPO/Subekti.

    Pedagang Warteg menunggu pembeli datang di sebuah warteg saat Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Jawa dan Bali di Jakarta, Kamis 28 Januari 2021. Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) menyatakan, sekitar 50 persen atau 20.000 unit warteg di Jabodetabek terancam gulung tikar pada 2021. Hal itu disebabkan karena tidak mampu membayar atau memperpanjang sewa tempat akibat pandemi Covid-19. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian besar pengusaha warung tegal atau warteg di Jabodetabek diperkirakan telah mudik. Mereka memilih pulang kampung saat bulan puasa, jauh sebelum larangan mudik berlaku pada 6-17 Mei 2021.

    "Kalau dari teman-teman di komunitas ini sudah separuh lebih pulang," kata Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni kepada Tempo, Selasa, 4 Mei 2021.

    Menurut Mukroni, para pengusaha warteg yang masih tersisa di Jabodetabek juga bakal pulang kampung. Namun dia tak bisa memastikan apakah para pengusaha warteg tersebut akan mengikuti aturan mudik dengan membuat SIKM (Surat Izin Keluar Masuk) atau melalui jalan tikus.

    "Hal-hal kayak begitu gak bisa kita cegah," kata Mukroni.

    Mukroni mengatakan kondisi warteg pada Ramadan tahun 2021 jauh lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Daya beli masyarakat anjlok. "Sekarang banyak orang yang pengangguran," kata dia.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang luar biasa terhadap 29,12 juta penduduk usia kerja. "2,56 juta penduduk menjadi pengangguran," kata Kepala BPS Suhariyanto pada Januari 2021.

    Menurut dia, dari jumlah itu 760 ribu penduduk menjadi bukan angkatan kerja, serta 1,77 juta penduduk sementara tidak bekerja. "Dan paling banyak, sebanyak 24,03 juta penduduk bekerja dengan pengurangan jam kerja," ujarnya.

    Baca juga: 20 Ribu Warteg Terancam Tutup, Wagub DKI Ajak Masyarakat Beli Kuliner Nusantara


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H