Pengusaha Warteg Minta Ini, Kowantara: Ketimbang Buat Ibu Kota Baru

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warteg Sunda Kelapa sepi pembeli saat Ramadan, karena pandemi Covid-19, Sabtu, 25 April 2020. TEMPO | Bram Setiawan

    Warteg Sunda Kelapa sepi pembeli saat Ramadan, karena pandemi Covid-19, Sabtu, 25 April 2020. TEMPO | Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni meminta pemerintah membuat kebijakan yang membantu meningkatkan perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Langkah itu dinilai sebagai strategi utama menopang pengusaha warteg.

    "Karena konsumen warteg kebanyakan adalah masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah," kata Mukroni kepada Tempo, Selasa, 4 Mei 2021.

    Menurut Mukroni, daya beli masyarakat yang turun sangat berpengaruh terhadap nasib pengusaha warteg. Di wilayah Jabodetabek saja, setengah pengusaha warteg di komunitasnya telah pulang kampung. Anggota Kowantara di wilayah itu disebut mencapai 10 ribu orang.

    "Ramadan ini nggak lebih bagus dari Ramadan kemarin. Jadi mau ngapain lagi mereka bertahan di sini," kata dia.

    Mukroni menjelaskan, banyak konsumen utama warteg berasal dari kalangan pekerja harian. Namun akibat pandemi Covid-19, para pekerja itu mengalami masalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Jika masih ada yang bekerja, para pekerja itu enggan makan di warteg.

    "Di jalan protokol itu banyak yang lewat, tapi mereka nggak beli di warteg. Mereka bawa makanan dari rumah," ujar Mukroni.  

    Mukroni mengatakan tak menyalahkan pemerintah atas sepinya konsumen warteg selama pandemi virus Corona ini. Namun dia menilai anggaran negara seharusnya lebih difokuskan untuk menyokong ekonomi masyarakat menengah ke bawah. "Ketimbang buat Ibu Kota baru, dan lain-lain," kata dia.

    Baca juga: Setengah Pedagang Warteg Jabodetabek Telah Mudik, Kowantara: Daya Beli Anjlok


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.