Jadwal KRL Jabodetabek Diubah Selama Larangan Mudik, Lihat Jadwalnya

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas PT Kereta Commuter Indonesia memperagakan kerja simulator Kereta Rel Listrik (KRL) di Dipo Depok, Jawa Barat. Foto: Antara

    Petugas PT Kereta Commuter Indonesia memperagakan kerja simulator Kereta Rel Listrik (KRL) di Dipo Depok, Jawa Barat. Foto: Antara

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Commuter Indonesia atau KAI Commuter membatasi jam operasional kereta rel listrik atau KRL Jabodetabek selama masa larangan mudik Lebaran 2021. Operasional kereta yang semula pukul 04.00-22.00 WIB berubah menjadi 04.00-20.00 WIB.

    "Untuk pola operasi di 6-17 Mei kami mengikuti ketentuan dari pemerintah bahwa operasi akan dibatasi dari pagi dan berakhir sampai jam 20.00, sebelumnya 22.00 WIB," kata Direktur Operasi dan Pemasaran KAI Commuter Wawan Ariyanto saat konferensi pers di Stasiun Jakarta Kota, Rabu, 5 Mei 2021.

    Sebelumnya, pemerintah pusat menetapkan melarang mudik Lebaran tahun ini. Tujuannya guna mencegah penularan Covid-19. Larangan mudik dimulai pada 6-17 Mei 2021.

    Menurut Wawan, jumlah perjalanan kereta juga diubah. Semula KAI Commuter mengoperasikan total 984 perjalanan kereta di masa pandemi Covid-19 berubah menjadi 886 perjalanan per harinya.

    Berikut rute KRL Jabodetabek yang dipangkas, berlaku untuk pulang-pergi:
    1. Bogor/Depok - Jakarta Kota (196 perjalanan)
    2. Bogor/Depok/Nambo - Angke/Jatinegara (180 perjalanan)
    3. Cikarang/Bekasi - Jakarta Kota (169 perjalanan)
    4. Rangkasbitung/Parungpanjang/Serpong - Tanah Abang (193 perjalanan)
    5. Tangerang - Duri (94 perjalanan)
    6. Tanjung Priok - Jakarta Kota (54 perjalanan)

    Baca: Penumpang KRL Bisa Transit di Stasiun Tanah Abang Mulai Hari Ini


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM, Polda Metro Jaya Tutup 10 Ruas Jalan Akibat Lonjakan Kasus Covid-19

    Polisi menutup 10 ruas jalan di sejumlah kawasan DKI Jakarta. Penutupan dilakukan akibat banyak pelanggaran protokol kesehatan saat PPKM berlangsung.