Saran Epidemiolog Agar Kasus Covid-19 di Jakarta Tak Meroket Usai Lebaran

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada peserta di Neo Soho Mall, Jakarta, Jumat, 7 Mei 2021. Vaksinasi COVID-19 massal tersebut ditujukan kepada 3.000 para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta pemilik tenan yang ada di kawasan mall tersebut.  TEMPO/Muhammad Hidayat

    Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada peserta di Neo Soho Mall, Jakarta, Jumat, 7 Mei 2021. Vaksinasi COVID-19 massal tersebut ditujukan kepada 3.000 para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta pemilik tenan yang ada di kawasan mall tersebut. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Untuk mencegah lonjakan kasus Covid -19 setelah Lebaran, pidemiolog dari Universitas Indonesia Syahrizal Syarif Saran Pemerintah DKI memperketat pengawasan pintu masuk selama periode larangan mudik lebaran pada 6-17 Mei 2021.

    "Untuk mengantisipasi lonjakan kasus yang tinggi upaya pengawasan pintu masuk harus diperketat," kata Syahrizal melalui pesan singkat, Sabtu, 8 Mei 2021.

    Ia memprediksi kasus Covid -19 bakal meningkat di Ibu Kota maupun wilayah lainnya di Indonesia. Sebabnya selama libur lebaran ini mobilitas warga akan semakin tinggi baik untuk bersilaturahmi maupun berlibur.

    Menurut dia, lonjakan kasus Covid-19 bakal sama dengan yang terjadi saat libur panjang sebelumnya. "Perlu ada upaya khusus. Karantina bagi pekerja migran yang pulang dari luar negeri juga perlu dilakukan," ucapnya.

    Selain itu, Pemerintah DKI juga harus terus melakukan penelusuran kontak dan pemeriksaan spesimen. Bahkan penelusuran kontak dan pemeriksaan spesimen harus diusahakan untuk bisa ditingkatkan.

    Namun, kata dia, yang menjadi masalah adalah data daerah dengan pusat sampai hari ini masih belum baik. Selain itu, vaksinasi juga jangan terlalu kaku soal penyaringan siapa yang boleh dan tidak boleh. "Dan yang pasti protokol protokol kesehatan harus tetap."

    Menurut Syahrizal, kedisiplinan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan semakin berkurang. Bahkan, jumlah orang makan satu meja dalam acara buka puasa bersama sering kali tidak mengindahkan protokol kesehatan Covid-19. "Sebaiknya ketat. Jangan boleh lebih dari lima orang. Pengawasan ibadah taraweh sampai nanti sholat Idul Fitri juga harus ketat."

    Baca:
    Wakil Wali Kota Depok Ungkap Klaster Majelis Taklim, 21 Orang Terpapar Covid -19


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Aman Berkendara dan Beraktivitas di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

    Jika harus keluar rumah, masyarakat wajib waspada dan melindungi diri dari Covid-19. Simak tips aman berkendara saat kasus Covid-19 merajalela.