Fakta-fakta Persidangan Rizieq Shihab: Singgung Janji Bima Arya Cabut Laporan

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sidang kasus kerumunan di Petamburan dengan terdakwa Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang hanya bisa dipantau melalui layar televisi Pengadilan pada Kamis, 22 April 2021. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Suasana sidang kasus kerumunan di Petamburan dengan terdakwa Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang hanya bisa dipantau melalui layar televisi Pengadilan pada Kamis, 22 April 2021. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Jakarta-Eks pimpinan FPI Rizieq Shihab menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Selasa, 11 Mei 2021.

    Sidang tersebut beragendakan pemeriksaan saksi dan saksi ahli. Dalam persidangan tersebut, para saksi yang dihadirkan memberi keterangan yang dapat meringankan Rizieq.

    "Saya tidak bermaksud menggurui ruang persidangan ini, tapi akal sehat sebagai orang yang belajar ilmu hukum dan mencoba mengembangkan narasi hukum kesehatan, memang logika hukumnya belum masuk," kata M. Nasser, ahli hukum kesehatan saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa, 11 Mei 2021.

    Berikut sejumlah fakta sidang tersebut:

    1. Saksi Sebut Bima Arya Pernah Janji Cabut Laporan
    Wali Kota Bogor Bima Arya disebut pernah berjanji mencabut laporan polisi terhadap Rizieq ihwal pemeriksaan PCR di Rumah Sakit Ummi Bogor. Hal ini disampaikan tokoh agama asal Bogor, Mahdi Assegaf saat bersaksi dalam persidangan Rizieq.

    Mahdi mengaku pernah bertemu dengan Bima Arya bersama para ulama dan habaib lain. Menurut Mahdi, pertemuan itu untuk menanyakan laporan polisi dari Bima terhadap Rizieq.

    Mahdi mengatakan kasus ini harusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sesusai pertemuan, Mahdi menyebut bahwa Bima Arya berjanji untuk menyelesaikannya. "Kami Insya Allah siap untuk mencabut laporan tersebut," kata Mahdi menirukan janji Bima Arya.

    Janji pencabutan laporan ini sebelumnya juga pernah disinggung Rizieq Shihab saat Bima Arya menjadi saksi persidangan. Rizieq bahkan mengungkit proses pemilihan kepala daerah yang memenangkan Bima Arya.

    "Kita bicara pendekatan kekeluargaan, Anda mengenal habib Mahdi Assegaf. Beliau sangat dekat dengan Anda bahkan pendukung utama Anda pada saat pemilihan Wali Kota Bogor dan saya yang merestui, karena saya gurunya," kata Rizieq kepada Bima Arya di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu, 14 April 2021.

    "Anda ada pertemuan dengan para habaib dan para ulama termasuk habib Mahdi setelah pelaporan tersebut, dan tadi Anda mengakui akan pertimbangkan akan cabut laporan," kata Rizieq kepada Bima Arya pada saat itu.

    Wali Kota Bogor Bima Arya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu, 14 April 2021. TEMPO/M YUSUF MANURUNG

    Namun menurut Rizieq, Bima Arya mengurungkan niatnya untuk mencabut laporan karena ada pernyataan dari polisi. Rizieq pun bertanya, siapa orang tersebut. Bima Arya lantas menjawab pertanyaan Rizieq. "Habib tentunya menyaksikan sendiri, Kapolda secara terbuka mengatakan tidak bisa dicabut," kata Bima Arya.

    2. Petugas RS Ummi Bogor Sebut Rekam Medis Rizieq Dibawa Penyidik
    Petugas Rekam Medis RS Ummi, Feni Mayasafa, mengatakan rekam medis Rizieq dibawa penyidik. Ia mengatakan itu sebabnya hasil rekam medis Rizieq baru dilaporkan ke Dinas Kesehatan Bogor pada 16 Desember 2020, kendati Rizieq dirawat sejak 24 November 2020.

    "Kita baru bisa melaporkan setelah berkasnya itu kembali ke rekam medis, ke kita," jawab Feni.

    "Oh berarti salah satu alasan pelaporan itu lama karena berkasnya dibawa penyidik?" kuasa hukum bertanya lagi. "Betul, karena dibawa penyidik," jawab Feni.

    Feni kemudian menjelaskan perbedaan pelaporan pasien Covid-19 dari rumah sakit ke Dinas Kesehatan Bogor dan Kementerian Kesehatan. Proses di Kementerian Kesehatan disebut lebih cepat dan mudah dibandingkan Dinas.

    Menurut Feni, rumah sakit akan melaporkan orang-orang yang terindikasi Covid-19 ke Kementrian Kesehatan pada H+1 setelah pasien masuk. Pasien yang dilaporkan adalah orang yang berdomisili sesuai kota rumah sakit berdiri maupun yang berasal dari luar.

    Sedangkan ke Dinas Kesehatan Kota Bogor, kata Feni, rumah sakit hanya melaporkan pasien yang berasal dari domisili serupa. Selain itu, rumah sakit juga harus menyertakan hasil tes Covid-19, bukan sekadar indikasi.

    3. Saksi Ahli Beri Keterangan Meringankan Rizieq
    Dosen Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, M. Nasser menyampaikan kesaksian yang meringankan Direktur Utama RS Ummi Andi Tatat dan Rizieq Shihab. Andi Tatat menjadi terdakwa lantaran dianggap menyebarkan kabar bohong lantaran menyebut kondisi Rizieq baik-baik saja saat dirawat di RS Ummi, padahal ada indikasi positif Covid-19.

    Menurut Nasser, Andi Tatat tak layak dipidana dengan tuduhan tersebut. Nasser beralasan ketika itu belum ada hasil pemeriksaan PCR terhadap Rizieq, melainkan baru tes antigen.

    Nasser menilai wajar saja bila dokter atau kepala rumah sakit tak sepenuhnya percaya dengan hasil antigen untuk menyatakan bahwa Rizieq positif Covid-19 saat itu juga. Barulah pada 8 Februari 2021, kata Nasser, Kementerian Kesehatan memberi penjelasan tentang manfaat tes antigen itu. Yaitu untuk tracking, screening dan diagnosa di tempat yang tidak ada tes PCR.

    "Jadi kalau kejadian November 2020 (Andi Tatat menyampaikan kondisi Rizieq), tentu saja pada saat itu isi pikiran dokter apalagi kepala rumah sakit mengangap ini (tes antigen) tidak akurat untuk memggambarkan pemeriksaan yang seharusnya dismapilan ke publik," kata Nasser.

    4. Rizieq Kembali Tanyai Saksi Ahli dengan Pengandaian Ayah-Anak-Dokter
    Rizieq kembali menanyai saksi ahli menggunakan metode pengandaian kasus dengan tiga tokoh utama, yaitu ayah, anak dan dokter. Kali ini yang ditanyai adalah ahli Sosiologi Hukum sekaligus Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar.

    Rizieq menanyakan apakah tindakan ayah, anak, dan dokter menyampaikan kondisi 'baik-baik saja' bisa dikatakan sebagai kebohongan ketika belum ada hasil tes PCR yang menunjukkan si ayah positif Covid-19. Menurut Musni Umar, tindakan ketiga pihak tersebut bukan kebohongan.

    Musni mengatakan mereka malah harus diapresiasi karena telah meredam kegaduhan. "Kalau sudah ada hasil PCR bahwa dia (ayah) positif kemudian mengatakan baik-baik saja, itu cerita lain," kata Musni Umar.

    Pertanyaan dengan metode dan isi yang sama juga pernah disampaikan Rizieq kepada saksi ahli lain, yakni pakar sosiologi hukum dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, yang dihadirkan jaksa.

    Dalam perkara ini, Rizieq Shihab dan terdakwa lain seperti menantunya, Hanif Alatas dan Direktur Rumah Sakit Ummi Bogor, Andi Tatat didakwa telah menyebarkan berita bohong hingga menimbulkan keonaran di masyarakat. Kebohongan itu menyangkut informasi tentang hasil tes PCR Rizieq Shihab.

    Baca juga : Rizieq Shihab Tuding Penyidik Giring Saksi Ahli, Minta Hakim Abaikan BAP

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | YUSUF MANURUNG


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Aman Berkendara dan Beraktivitas di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

    Jika harus keluar rumah, masyarakat wajib waspada dan melindungi diri dari Covid-19. Simak tips aman berkendara saat kasus Covid-19 merajalela.